SEJARAH ASIA TIMUR : "AJARAN KONFUSIANISME KOREA KUNO"
RESUME
DOSEN PENGAMPU :
Adi Priyanto, S.E, M.Pd
Penyusun :
Rhamanda Yudha Pratomo
NIM : 2510007722005
AJARAN KONFUSIANISME KOREA KUNO
1. Sejarah Masuk dan Perkembangan
- Konfusianisme masuk ke Korea sejak abad ke-2 M melalui interaksi dengan Tiongkok, namun mencapai puncaknya pada masa Dinasti Joseon (1392–1910).
- Pada masa sebelumnya (Dinasti Goryeo), agama utama adalah Buddhisme.
- Pendiri Dinasti Joseon mengganti dasar negara menjadi Neo-Konfusianisme karena dianggap lebih cocok untuk menata pemerintahan dan masyarakat yang tertib, serta dianggap lebih rasional dibandingkan Buddhisme yang dianggap terlalu ritualistik.
2. Prinsip Dasar Ajaran
Konfusianisme di Korea berfokus pada penataan hubungan manusia agar tercipta keharmonisan, yang terbagi menjadi dua konsep utama:
A. Tiga Pilar Utama (Samgang)
1. Chung (忠 - Kesetiaan): Rakyat wajib setia mutlak kepada Raja/Pemimpin.
2. Hyosun (孝 - Kebaktian): Anak wajib berbakti sepenuhnya kepada Orang Tua.
3. Yeol (烈 - Kesetiaan Pasangan): Istri wajib setia dan taat kepada Suami.
B. Lima Hubungan Sosial (Oryun)
Mengatur tata cara pergaulan sesuai status:
1. Raja & Rakyat: Adil dan setia.
2. Ayah & Anak: Penyayang dan berbakti.
3. Suami & Istri: Perhatian dan patuh.
4. Kakak & Adik: Ramah dan hormat.
5. Teman & Sesama: Jujur dan percaya.
3. Pengaruh dalam Politik dan Pemerintahan
- Sistem Gwageo: Sistem ujian negara untuk menjadi pejabat. Materi ujian berupa sastra dan filsafat Konfusianisme.
- Hanya golongan bangsawan Yangban yang bisa mengikuti ujian ini, sehingga mereka memegang kendali pemerintahan.
- Raja dianggap sebagai "Ayah dari Rakyat" yang harus bijaksana dan menjadi teladan moral.
4. Dampak terhadap Struktur Sosial
- Hierarki yang Kaku: Masyarakat sangat sadar akan posisi dan jabatan. Sikap sopan santun (Ye) sangat ditekankan, terutama yang muda kepada yang tua.
- Pentingnya Pendidikan: Orang yang berilmu dan beradab dianggap memiliki status sosial tinggi.
- Patriarki: Peran laki-laki sangat dominan dalam keluarga dan masyarakat, sementara perempuan diharapkan patuh dan mengurus rumah tangga.
- Kultus Leluhur: Tradisi menghormati dan melakukan upacara kepada leluhur menjadi sangat kuat dan wajib dilakukan.
Referensi:
Prasetiyo, Wiwied, Yanto, Andri, & Adams, Sony. Sejarah Asia Timur.
Komentar
Posting Komentar