NASKAH MENDONGENG: "URAIKAN DAN SARIMAH".

 JUDUL: URAIKAN DAN SARIMAH
Karya Gubahan: Rhamanda Yudha Pratomo 
 
Versi Cerita Rakyat Ranah Minang
 
 NASKAH MENDONGENG
 
(Pembukaan: Suara lembut namun tegas)
 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat pagi, sahabat sekalian.
 
Di bumi Minangkabau, ada pepatah yang mengatakan:
"Barang siapa menanam jagung, jagunglah yang dipanen. Barang siapa berbuat baik, kebaikanlah yang didapatkan."
 
Hari ini, mari kita dengarkan kisah dua orang gadis yang hidup dalam satu rumah namun memiliki hati yang sangat berbeda. Namanya Uraikan dan Sarimah.
 
 (Suara menjadi mendongeng mengalir)
 
Dahulu kala, di sebuah nagari yang asri, hiduplah seorang janda bersama anak perempuannya yang bernama Uraikan. Uraikan adalah gadis yang cantik rupanya, tapi sangat malas, sombong, dan manja. Segala pekerjaan rumah ia serahkan pada orang lain.
 
Suatu hari, sang janda menikah lagi dengan seorang duda yang memiliki anak gadis baik hati bernama Sarimah. Sejak saat itu, Sarimah tinggal bersama ibu tiri dan kakak tirinya.
 
Namun, nasib Sarimah tidak seindah namanya. Ibu tirinya sangat pilih kasih. Ia menyayangi Uraikan layaknya ratu, sementara Sarimah diperlakukan seperti pembantu.
 
Setiap pagi, sebelum ayam berkokok, Sarimah sudah bangun. Ia yang memasak, ia yang mencuci pakaian, ia yang menyapu rumah hingga bersih. Sementara itu, Uraikan hanya bangun jika mata sudah tinggi, makan enak, dan berpakaian indah. Jika ada yang kurang sedikit saja, Uraikan akan marah-marah dan menyalahkan Sarimah.
 
Sarimah hanya bisa sabar. Ia tidak pernah membantah, dan selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan kekuatan.
 
  (Bagian Inti Cerita)
 Suatu hari, saat Sarimah sedang mencuci baju di tepi sungai, tiba-tiba selendang kesayangan ibunya hanyut terbawa arus. Sarimah panik! Ia mengejar selendang itu sambil berteriak, namun arus sungai terlalu deras hingga selendang itu hilang ditelan bukit batu.
 
Dengan hati takut, Sarimah pulang dan mengaku. Ibu tirinya sangat marah.
"Dasar gadis ceroboh! Cari selendang itu sekarang juga! Jangan berani pulang sebelum kau menemukannya!" teriaknya.
 
Sarimah pun menangis dan berjalan menyusuri sungai. Ia bertanya pada setiap orang yang ia temui, namun tidak ada yang melihat. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah gua yang sangat indah.
 
Di dalam gua itu, ia bertemu dengan seorang nenek yang sangat tua namun wajahnya bersinar terang.
"Ada apa engkau menangis, Nak?" tanya Nenek itu.
 
Sarimah pun menceritakan semua kejadian dengan sopan dan santun.
"Oh, selendang itu ada padaku. Tapi, jika kau ingin memilikinya kembali, kau harus bekerja dulu di sini," kata Nenek.
 
Sarimah setuju. Ia bekerja dengan sangat rajin. Ia menyapu lantai gua hingga kinclong, ia menumbuk padi dengan kuat, dan ia melayani Nenek itu dengan sangat hormat. Karena ketekunannya, Nenek itu sangat sayang padanya.
 
 (Bagian Hadiah)
 Setelah pekerjaan selesai, Nenek mengembalikan selendang itu. Sebagai hadiah karena kebaikan hatinya, Nenek berkata:
"Pilihlah salah satu dari dua buah labu ini sebagai bekalmu pulang. Yang satu kecil, yang satu besar."
 
Sarimah adalah gadis yang tidak serakah. Ia berkata, "Cukuplah yang kecil saja, Nek. Terima kasih."
 
Sesampainya di rumah, Sarimah membuka labu kecil itu. Ajaib! Ternyata di dalamnya penuh dengan emas permata dan kain sutra yang indah. Rumah mereka seketika menjadi kaya raya.
 
Melihat hal itu, Ibu tiri dan Uraikan menjadi sangat iri dan tamak. Mereka bertanya dari mana dapatnya, dan Sarimah menceritakan semuanya dengan jujur.
 
  (Akhir Cerita)
 Keesokan harinya, Uraikan sengaja membuang selendang ke sungai agar bisa ikut ke gua Nenek. Ia pun pergi ke gua itu dan bertemu Nenek yang sama.
 
Namun, sifat Uraikan sangat berbeda. Ia malas, kasar, dan tidak sopan. Ia menyapu seenaknya, menumbuk padi dengan malas, dan bicara kepada Nenek dengan nada tinggi.
 
Saat akan pulang, Nenek mempersilakan memilih labu. Karena serakah, Uraikan langsung menyambar labu yang paling besar.
"Ini yang aku mau!" teriaknya.
 
Dengan senyum misterius, Nenek mengizinkannya.
 Sepulang ke rumah, Ibu tirinya sangat senang melihat labu besar itu. Mereka berdua segera membelah labu itu dengan penuh harap.
 
KRAKK!
 Tapi apa yang terjadi? Bukan emas yang keluar, melainkan ular-ular kecil, kalajengking, dan asap hitam yang berbau busuk!
 
Mereka berdua ketakutan dan menyesal, namun sudah terlambat. Itulah balasan untuk sifat jahat dan serakah mereka.
 
 (Penutup & Pesan Moral)
 
Hadirin sekalian,
 
Itulah kisah Uraikan dan Sarimah dari Ranah Minang.
Cerita ini mengajarkan kita:
Kebaikan akan selalu membawa kebaikan, dan keburukan akan kembali kepada yang berbuat.
 
Jadilah seperti Sarimah: Rajin, sabar, dan rendah hati. Jangan seperti Uraikan yang malas, sombong, dan serakah. Karena Tuhan Maha Melihat, dan tangan yang selalu memberi, akan lebih berbahagia daripada tangan yang selalu meminta.
 
 
Demikian dongeng hari ini. Semoga bermanfaat.
 Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUMPULAN NASKAH MENDONGENG FLS3N 2026 UNTUK JENJANG SD

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 21 PAYAKUMBUH

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 16 PAYAKUMBUH