MINI ANTOLOGI PUISI "ENERGI SPIRITUAL NUSANTARA". Karya : RHAMANDA YUDHA PRATOMO"
1. KELEMBUTAN HATI.
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Kelembutan hati itu hanya bisa didapat dari baiknya hati, dari kerendahan hati.
Kelembutan hati itu akan memperlakukan orang lain dengan baik hati.
Kelembutan hati itu tidak akan menyakiti hati orang lain dan selalu menjaga hatinya sendiri.
Kelembutan hati itu akan membawa dampak positif orang disekitarnya dan bagi dirinya sendiri.
Kelembutan hati itu akan membuat orang lain bahagia dan membuat bahagia dirinya sendiri.
Kelembutan hati itu selalu peduli kepada sesama dan memiliki rasa simpati dan empati.
Kelembutan hati itu sudah pasti dia memiliki Budi pekerti yang tinggi.
Kelembutan hati itu sudah pasti dia memiliki toleransi beragama dan toleransi sosial yang tinggi.
Kelembutan hati itu akan mudah dipercayai, dihargai dan dihormati.
Kelembutan hati itu mampu meredakan konflik, tidak menambah ketegangan, mendinginkan, mendamaikan, menjaga suasana tetap kondusif dan memberikan solusi.
Kelembutan hati itu akan menjalin hubungan yang tulus dan dalam, berinteraksi dengan ketulusan hati tanpa ada maksud tersembunyi.
Kelembutan hati itu bagi orang lain akan menjadi sumber inspirasi dan motivasi.
Kelembutan hati itu akan memiliki sikap tulus, tidak mudah tersinggung, sabar dan penuh kasih.
Kelembutan hati itu akan mengajarkan tentang pentingnya menjadi pribadi yang baik dan menghargai sesama, bagaimana menghadapi kehidupan dengan penuh keikhlasan, ketenangan dan peduli.
Kelembutan hati itu akan membawa kedamaian dan memberikan rasa aman.
Orang yang memiliki kelembutan hati adalah orang yang luar biasa dan sangat layak dihargai dan dihormati.
Kelembutan hati itu tetap tenang saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan memiliki kendali diri.
Kelembutan hati itu tidak memiliki sifat yang angkuh dan ego yang tinggi.
Kelembutan hati akan menjadi air dingin yang akan memadamkan api amarah, akan memadamkan emosi.
Kelembutan hati perlahan akan menghancurkan kerasnya hati.
Kelembutan hati itu bukanlah suatu kelemahan, tetap bisa bersikap tegas didalam kelembutan hati.
Kelembutan hati, ketenangan hati bukanlah suatu kelemahan, tetapi itu adalah kekuatan terbesar yang mana bertindak dengan kebaikan dan kemurahan hati.
Kelembutan hati akan akan merekatkan persaudaraan didalam perbedaan. Apa yang datang dari hati akan sampai kehati.
Kelembutan hati itu mudah dan cepat memaafkan, selalu bersyukur, memberi tanpa imbalan dan tidak ada iri dengki.
Kelembutan hati itu akan merasakan ketenangan didalam batinnya dan hidupnya damai.
Kelembutan hati itu akan bertindak dengan bijak dan didalam setiap langkah akan bertindak hati-hati.
Kelembutan hati itu tidak merasa yang paling benar, akan selalu introspeksi dan koreksi diri.
Kelembutan hati itu sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Orang yang dihatinya penuh kedengkian, kebencian, permusuhan dan dendam, tidak akan memiliki kelembutan hati.
Orang yang memiliki banyak cinta dihatinya, sudah pasti memiliki kelembutan hati.
Bogor, 29 Agustus 2024
2. HIDUP ADALAH PENGULANGAN
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Mengingatkan pada diri sendiri bahwasanya tidak boleh erat memegang yang kita punya
Semua pada akhirnya akan hilang
Tidak ada yang kekal abadi
Hanya sebatas nebeng eksis diatas segala sesuatu yang sebatas hak pakai
Tapi merasa memiliki dan engaku sisi segala di hadapkan
Miliku
Punyaku
Pikiran ku
Gagasan ku
Perasaaan ku
Padahal aku itu semestinya adalah dia
Alam semesta sang pencipta
Tiadakan wujud aku keakuan hingga yang ada hanyalah perwujudan Dzat Allah “AKU”.
Bogor, 10 februari 2024
3. VIBRASI ALAM SEMESTA
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di bawah langit biru yang luas,
Alam menjelma dalam keindahan sejati.
Gunung menjulang tinggi, megah dan gagah,
Sungai-sungai mengalir, tenang dan jernih.
Hutan lebat dengan dedaunan hijau,
Rimba yang penuh dengan misteri dan kehidupan.
Burung-burung bernyanyi dengan merdu,
Sementara bunga-bunga mekar di bawah matahari.
Lautan yang luas dengan ombak yang bergulung,
Pasir putih yang lembut di tepi pantai.
Matahari terbenam dengan warna-warna indah,
Menyinari alam dengan cahaya emas yang gemilang.
alam semesta adalah nyanyian pujian,
Kepada kebesaran alam yang tak terbandingkan.
Mari kita jaga dan pelihara warisan ini,
Agar keindahan alam tetap bersinar terang.
Bogor, 27 Oktober 2023
4. KEBESARAN LAHIR DARI KETIADAAN EGO
Karya: Rhamanda Yudha Pratomo
Banyak orang ingin membesar
dengan meninggikan diri,
padahal Rumi mengajarkan sebaliknya:
pertumbuhan sejati
lahir saat ego dikecilkan.
Selama “aku” terus menuntut diakui,
dunia terasa sempit
dan penuh persaingan.
Namun ketika ego dilepaskan,
hati justru meluas
melampaui batas dunia.
Dalam tasawuf,
meniadakan diri bukan berarti hilang,
melainkan kembali pada hakikat.
Ego yang sunyi
membuat kebenaran berbicara sendiri.
Di saat itulah jati diri
tak perlu diumumkan,
karena ia hadir
dalam sikap,
ketenangan,
dan kebijaksanaan.
Stoikisme pun sejalan
dalam pengendalian diri.
Ia mengajarkan
untuk tidak menjadikan ego
sebagai pusat semesta.
Ketika kita berhenti
membesarkan diri
dengan opini dan pujian,
kita menjadi bebas
dari penilaian manusia.
Filsafat hidup menegaskan,
bahwa identitas sejati
bukanlah apa yang kita klaim,
melainkan apa yang kita wujudkan
dalam diam.
Kekuatan terdalam
tidak berisik.
Ia tenang,
namun kokoh.
Motivasi tertinggi bukanlah
menjadi lebih tinggi dari orang lain,
melainkan lebih jujur pada diri.
Saat ego mereda,
kesadaran tumbuh.
Dan ketika kesadaran tumbuh,
hidup menemukan maknanya
tanpa perlu banyak kata.
Harau,19 Januari 2026
5. EMOSI YANG MENCERAHKAN
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Ada luka yang membuka pintu,
dan tawa yang menyalakan langit.
Air mata pun, saat jatuh dengan jujur,
menjadi jernih cermin bagi jiwa yang haus.
Emosi—bukan beban,
tapi api suci yang mengukir jalan.
Marah mengingatkan batas,
sedih mengajarkan dalam,
rindu melatih sabar,
dan cinta—ah, cinta—
ia menyalakan seluruh semesta
dari dada yang sempit.
Ketika hati bergetar,
itu bukan kelemahan,
melainkan denting lonceng
yang mengajak kita pulang
ke pusat diri yang tak pernah padam.
Begitulah, emosi bukan kabut yang menutup,
melainkan cahaya yang menyingkap,
membawa kita menari
dalam tarikan misterius
antara gelap dan terang—
sampai kita sadar:
keduanya adalah satu.
Harau, 20 Januari 2026
6. Portal Spiritual Nusantara
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di ufuk Nusantara, gerbang suci terbuka lebar,
Portal spiritual, pintu rahasia alam semesta.
Dari Gunung Padang hingga Candi Borobudur agung,
Bisik angin membawa doa leluhur, abadi tak tergugat.Nusantara, tanah rahmatan lil alamin,
Islam bersemi di akar budaya, harmoni jiwa.
Megalit menjulang, menhir saksi perundagian,
Animisme dan dinamisme, bertemu iman yang mulia.Lewat portal ini, intuisi dan firasat menyala,
Ukuwah Islami merangkul kerukunan beragama.
Zakat mengalir, wakaf membangun madani,
Gotong royong purba, kini jadi cahaya ketaqwaan.O Portal Spiritual, Nusantara yang sakral,
Bawa jiwa kita menuju hakikat ilahi,
Di antara sajen Jawa dan adab Minang,
Kita temukan martabat manusia, abadi selamanya.
Harau, 22 Januari 2026
7. Senyap Abadi
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di ujung napas yang bergetar lesu,
Dunia pudar, cahaya meredup pilu.
Sang waktu berhenti, tak lagi berpacu,
Menjelang senyap, keabadian memanggilku.Tirai tipis terangkat, batas fana sirna,
Jiwa melayang, ringan tanpa makna.
Meninggalkan raga, bejana yang renta,
Kembali ke asal, dalam damai sempurna.Bukan akhir, melainkan awal yang baru,
Perjalanan sunyi, menuju Yang Satu.
Kenangan bersemi, meski tak lagi bersamamu,
Cinta abadi, tak terenggut waktu.Kematian bukan hantu, bukan pula seram,
Ia adalah gerbang, menuju ketenteraman.
Melepas beban, menggapai kedamaian,
Dalam pelukan Illahi, tanpa dendam.
Payakumbuh, 27 Januari 2026
8. Pelukan Tanah
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Tanah basah menyambut, dingin mesra,
Tubuh lelah rebah, tak lagi berontak.
Akar-akar menari, menyatu dengan rahsia,
Menjadi debu, pupuk bagi yang datang tak lama.Bayang masa lalu, bergulir bagai sungai,
Tawa, tangis, janji yang pudar perlahan.
Kini diam, tak ada lagi yang menjerit,
Hanya angin berbisik, menyanyikan lagu perpisahan.Di balik kegelapan, cahaya tersembunyi,
Rahasia ilahi, yang tak terucap lidah.
Kematian adalah cermin, mengajak renung jiwa,
Siapkah kau hadapi, saat panggilan tiba?
Payakumbuh, 29 Januari 2026
9. Sisa Umur Tak Lama Lagi
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di ufuk senja, bayang waktu merangkak pelan,
Sisa umur menipis, seperti daun gugur di angin musim.
Detik-detik berlalu, tak kembali ke pelukan tangan,
Hanya amal dan taubat yang abadi, selamatkan jiwa yang resah.Refleksi jiwa di ambang pintu akhir,
Apa yang kutanam di ladang hati yang kering?
Dosa bertumpuk bagai awan hitam menyelimuti,
Atau cahaya iman menyinari jalan pulang ke-Rahman?Waktu adalah amanah, pinjaman dari Sang Pencipta,
Sisa hari ini, jadikan ladang akhirat yang subur.
Lepaskan dunia yang fana, genggam ketakwaan erat,
Sebelum nafas terakhir, hembuskan doa: "Ya Allah, ampuni hamba-Mu."Ingatlah, setiap hembusan adalah pengingat,
Sisa umur tak lama lagi, bangunlah sebelum terlambat.
Ubah penyesalan menjadi langkah taubat yang tulus,
Kembalilah kepada-Nya, dengan hati yang bersih dan penuh harap.
Kabupaten 50 kota, 1 Februari 2026
10. Makrifat: Cahaya Hati yang Bangkit
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di relung jiwa, tersembunyi rahasia abadi,
Makrifat menyapa, lembut bagai embun subuh.
Bukan mata yang melihat, tapi nur hati yang terbuka,
Menembus tabir dunia, menyapa Dzat Yang Maha Esa.Lautan pengetahuan, gelombang ijtihad mengalir,
Sumber ajaran suci, Al-Qur'an dan Sunnah menyinari.
Ukuwah Islami terjalin, rahmatan lil alamin,
Kerukunan umat, di Nusantara tanah madani.Hakikat manusia, khalifah di muka bumi,
Etika moral menari, iman dan takwa berpadu.
Zakat mengalir, wakaf abadi membangun,
Dekadensi sirna, solusi Islam menyembuhkan luka.Firasat intuisi, panggilan dari langit biru,
IPTEKS bercahaya, etika ilmu menuntun langkah.
Dalam sejarah Nusantara, megalith berbisik,
Makrifat abadi, jiwa bangkit, dekat dengan Tuhan.
Kabupaten 50 kota, 4 Februari 2026
11. Di Balik Tirai Diri
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di relung hati, sunyi berbisik,
Sebuah kesadaran mulai terusik.
Bukan gemerlap dunia yang fana,
Namun bisikan ruh, cahaya nirwana.Mata terbuka, bukan hanya melihat,
Namun merasakan makna yang tersemat.
Di setiap hembusan, di setiap langkah,
Ada Sang Pencipta, selalu di sisi.Dunia ini panggung, sandiwara maya,
Namun jiwa mencari hakikat cahaya.
Melampaui jasad, melampaui pikiran,
Menyentuh esensi, sebuah kebenaran.Puasa bukan hanya menahan lapar,
Namun membersihkan jiwa dari khilaf.
Shalat bukan gerak tanpa arti,
Namun dialog cinta, meresapi ilahi.Harta dan tahta, hanyalah titipan,
Yang abadi adalah ketenangan.
Menemukan damai di tengah riuh,
Ketika ruh dan raga, menyatu utuh.Maka bangkitlah, dari tidur panjang,
Jelajahi batin, temukan terang.
Kesadaran spiritual, pelita di gelap,
Menuntun kembali pada jalan yang mantap.
Kabupaten 50 Harau, 29 Januari 2026
12. Mencari Jati Diri
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di lautan jiwa yang bergelora tak henti,
Aku merenung, siapa diriku sebenarnya?
Bayang masa lalu menari di angin malam,
Antara mimpi dan kenyataan, hilang arahnya.Langkah demi langkah, menyusuri lorong hati,
Tanya pada cermin, "Siapakah engkau wahai diri?"
Dalam diam batin, suara Tuhan berbisik lembut,
"Jati dirimu adalah cahaya iman, abadi selamanya."Melewati badai ragu, naik ke puncak gunung keyakinan,
Kini kutemukan, aku hamba yang mencinta Sang Pencipta.
Jati diri bukan emas, bukan tahta megah dunia,
Tapi ketakwaan hati, rahmatan lil alamin yang mulia.Dari kegelapan pencarian, terbit fajar baru,
Aku adalah aku, ciptaan-Nya yang sempurna.
Ukuwah bersemi, akhlak mulia terpancar,
Mencari jati diri, kini kutemui kedamaian abadi.
Padang kota Taplau, 31 Januari 2026
13. OMBAK MELIPAT SENJA
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di tepi pantai yang sunyi,
ombak datang membawa bisik angin,
melipat senja seperti kain sutra tipis,
menyelimuti langit dengan warna jingga pudar.Ombak menggoda pasir putih,
seolah melukis cerita lama tentang kehilangan,
senja pun menari pelan di balik bayangan,
membawa rahasia samudra yang tak terucap.Tapi di antara deru itu, ada harapan,
seperti fajar yang menyapa setelah malam panjang,
ombak melipat senja bukan untuk hilang,
melainkan untuk bangkit lagi, penuh makna baru.
Padang Kota Taplau, 31 Januari 2026
14. Mendung Senja Tepi Desir Laut
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di ufuk barat, mendung menyapa senja,
awan kelabu memeluk langit yang pudar,
desir laut bergema pelan di tepi pasir,
ombak menari dengan bisik angin malam.Bayangan kapal terapung di kejauhan,
kenangan lalu mengalir seperti derasnya air,
di balik kabut, cerita tak tertulis lagi,
laut membawa rahasia dari zaman purba.Namun di hati, ada harapan yang tetap,
seperti matahari yang selalu bangkit kembali,
meski mendung datang tanpa permisi,
senja ini pun akan berubah jadi pagi.Desir laut terus berbisik, "Berani maju!",
menyambut jiwa yang haus akan makna,
di tepi dunia, kita belajar bertahan,
dalam irama lautan, hidup bernyanyi abadi.
Padang Kota Taplau, 31 Januari 2026
15. Kalam dan Hitam di Nagari Gandam
Karya : Rhamanda Yudha Pratomo
Di nagari Gandam yang sunyi,
di antara gunung-gunung tinggi,
kalam bergema seperti angin malam,
menyapa hati yang gelap gulita.
Hitamnya malam menyelimuti jejak,
seperti bayangan masa lalu yang tak terlupakan,
namun kalam itu membawa cahaya,
cahaya ilahi yang membangkitkan jiwa.
O kalam suci dari langit yang mulia,
hitam hitam tanpa tanda, tapi penuh makna,
di nagari ini, tempat adat dan iman bersatu,
kau ajarkan rahmat bagi yang tersesat.
Hingga fajar menyingsing di ufuk timur,
kalimat-kalimatmu mengubah kegelapan jadi harapan,
Nagari Gandam, rumahku abadi,
dengan kalam dan hitam, kita temukan jalan menuju Tuhan.
Batu Sangkar, 8 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar