PRA SEJARAH : MASSA BERCOCOK TANAM

RESUME 
MASSA BERCOCOK TANAM PRA SEJARAH 
Dosen Pengampu : Drs. Destel Meri, M.Pd 

disusun oleh Mahasiswa : 
Rhamanda Yudha Pratomo 
NIM : 2510007722005


A. MENURUT PENULIS KE 2 REFERENSI BUKU 
Menurut R.P. Soejono dan R. Soekmono, masa bercocok tanam merupakan periode penting dalam prasejarah Indonesia yang menandai perubahan signifikan dalam kehidupan manusia.
⚫Pandangan R.P. Soejono:
R.P. Soejono pada tahun 1970 memperkenalkan model periodisasi prasejarah Indonesia berdasarkan aspek sosial-ekonomi dan mata pencarian manusia. Dalam periodisasi tersebut, masa bercocok tanam termasuk dalam salah satu tahapan utama, setelah masa berburu dan mengumpul makanan tingkat sederhana serta tingkat lanjut, dan sebelum masa perundagian. Masa bercocok tanam ini didasarkan pada pola kehidupan di masa praaksara. Soejono juga menyebutkan bahwa kebudayaan megalitik, yang menghasilkan bangunan dari batu-batu besar, muncul di masyarakat masa bercocok tanam, di mana bangunan tersebut menjadi medium penghormatan, tempat singgah, dan lambang bagi yang meninggal.
🟠Pandangan R. Soekmono:
Menurut Soekmono (1973:48), masa Neolitikum atau masa bercocok tanam adalah dasar dari kebudayaan Indonesia, yang dibuktikan dengan masih bertahannya tradisi bercocok tanam hingga saat ini. Soekmono juga menyoroti kebudayaan megalitik sebagai kebudayaan yang menghasilkan bangunan dari batu-batu besar yang juga muncul pada masa bercocok tanam.
Secara umum, masa bercocok tanam ditandai dengan peralihan dari pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan ke kegiatan menanam dan beternak, yang memungkinkan masyarakat untuk hidup menetap dan mengembangkan teknologi pertanian. Periode ini sangat penting dalam perkembangan peradaban karena adanya penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam.

B. PEMBAHASAN & CIRI-CIRI MASA BERCOCOK TANAM 
Masa bercocok tanam, yang juga dikenal sebagai zaman Neolitikum, merupakan periode penting dalam prasejarah Indonesia. Para ahli seperti R.P. Soejono dan R. Soekmono banyak mengkaji tahapan ini.

Ciri-ciri Kehidupan pada Masa Bercocok Tanam:
a. Pola Hidup Menetap: Salah satu ciri paling signifikan dari masa bercocok tanam adalah manusia mulai hidup menetap di suatu wilayah. Mereka tidak lagi hidup nomaden atau berpindah-pindah seperti pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Kehidupan menetap ini didorong oleh kegiatan pertanian yang memerlukan waktu dan pemeliharaan.

b. Aktivitas Pertanian dan Peternakan: Manusia beralih dari mengandalkan hasil buruan dan tumbuhan liar menjadi memproduksi makanan sendiri melalui bercocok tanam (food producing). Tanaman seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan mulai dibudidayakan. Selain itu, mereka juga mulai beternak hewan. 

c. Teknologi Peralatan Batu yang Lebih Halus: Peralatan yang digunakan pada masa ini menunjukkan peningkatan kualitas. Alat-alat batu diasah hingga halus dan memiliki bentuk yang lebih baik, seperti kapak persegi dan beliung.
Pembuatan Gerabah: Masa bercocok tanam juga ditandai dengan munculnya keahlian membuat gerabah atau tembikar dari tanah liat. Gerabah digunakan untuk menyimpan makanan dan keperluan sehari-hari lainnya.

d. Sistem Sosial yang Lebih Kompleks: Dengan hidup menetap dan adanya kelebihan produksi makanan, struktur masyarakat menjadi lebih terorganisir. Adat istiadat dan kepercayaan juga semakin berkembang pesat.

C. SUDUT PANDANG 
Pandangan R.P. Soejono dan R. Soekmono Terkait:
Baik R.P. Soejono maupun R. Soekmono sepakat bahwa masa bercocok tanam adalah tahapan krusial dalam prasejarah Indonesia. R.P. Soejono menempatkan masa bercocok tanam sebagai salah satu tingkatan dalam periodisasi prasejarahnya. Sementara itu, R. Soekmono bahkan berpendapat bahwa kebudayaan Neolitikum merupakan dasar dari kebudayaan Indonesia sekarang, mengingat tradisi bercocok tanam masih bertahan hingga kini. Keduanya juga mengaitkan kemunculan kebudayaan megalitik pada masa bercocok tanam, di mana bangunan batu besar digunakan untuk penghormatan terhadap leluhur.
Perkembangan pertanian pada masa ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga mendorong lahirnya peradaban dan sistem masyarakat yang lebih teratur.


D. JEJAK-JEJAK ARTEFAK PADA BENDA BERCOCOK TANAM 
Peninggalan Kebudayaan Masa Bercocok Tanam Menurut Soejono dan Soekmono
Masa bercocok tanam (Neolitikum) meninggalkan berbagai peninggalan yang mencerminkan kemajuan teknologi dan kepercayaan masyarakat prasejarah Indonesia. Menurut R.P. Soejono, periode ini ditandai dengan alat-alat batu yang diasah halus, seperti kapak persegi dan beliung, serta munculnya kebudayaan megalitik sebagai bagian dari masyarakat agraris yang hidup menetap. Soejono menempatkan masa ini setelah berburu tingkat lanjut dan sebelum perundagian, dengan megalitik berfungsi sebagai medium penghormatan leluhur, tempat singgah roh, dan lambang kematian.

Sementara R. Soekmono menegaskan bahwa kebudayaan Neolitikum menjadi dasar kebudayaan Indonesia modern, dibuktikan oleh kelanjutan tradisi bercocok tanam hingga kini. Ia mengaitkan peninggalan seperti gerabah (tembikar) dari tanah liat untuk penyimpanan makanan, serta struktur megalitik seperti menhir, dolmen, dan punden berundak yang terkait kepercayaan animisme dan penghormatan arwah. Kebudayaan megalitik ini muncul pada masyarakat bercocok tanam, didorong oleh surplus pangan dari pertanian yang memungkinkan pembangunan monumen batu besar.

Contoh Situs dan Peninggalan Utama:
1. Kapak Persegi dan Beliung: Ditemukan di berbagai situs seperti Liang Bua dan Gua Chawet, menunjukkan kemahiran pengolahan batu untuk alat tanam.

2. Gerabah: Bukti kerajinan tembikar untuk kehidupan sehari-hari, tersebar di Jawa dan Sumatra.

3. Megalitik: Menhir (tiang batu sakral), dolmen (meja batu untuk jenazah), sarkofagus, dan arca nenek moyang di Pasemah (Sumatra Selatan), Gunung Slamet (Jawa Tengah), serta Nias dan Toraja yang masih bertahan. berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id
Peninggalan ini tidak hanya artefak, tapi juga bukti transisi ke masyarakat agraris dengan struktur sosial kompleks, dipengaruhi migrasi Austronesia. 


E. HUBUNGAN KEBUDAYAAN MEGALITIKUM DENGAN MASA BERCOCOK TANAM 
Menurut Soejono dan Soekmono
Kebudayaan megalitik memiliki ikatan erat dengan masa bercocok tanam (Neolitikum), karena surplus pangan dari pertanian memungkinkan masyarakat membangun struktur monumental dari batu besar. Menurut R.P. Soejono, kebudayaan ini muncul pada masyarakat agraris yang menetap, di mana bangunan megalitik berfungsi sebagai medium penghormatan leluhur, tempat singgah roh, dan lambang kematian. Soejono menempatkan masa bercocok tanam sebagai tahap ketiga dalam periodisasinya (setelah berburu tingkat sederhana dan lanjut, sebelum perundagian), yang didasarkan pada sosial-ekonomi dan mata pencaharian. 

F. KESIMPULAN 
Pandangan ini dengan menyatakan bahwa kebudayaan Neolitikum menjadi dasar kebudayaan Indonesia modern, dibuktikan oleh kelanjutan tradisi bercocok tanam hingga kini. Ia mengaitkan megalitik dengan kepercayaan animisme pada masa agraris, di mana struktur seperti menhir dan dolmen terkait pemujaan arwah. Hubungan ini didorong oleh hidup menetap dan produksi pangan berlebih, yang membebaskan tenaga kerja untuk ritual keagamaan. 
Implikasi Perkembangan Pertanian: Pertanian menghasilkan surplus, mendukung pembangunan megalitik sebagai simbol status sosial dan keagamaan.
Migrasi Austronesia membawa teknologi tanam dan tradisi megalitik, tersebar dari Sumatra hingga Papua.

G. LAMPIRAN GAMBAR 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUMPULAN NASKAH MENDONGENG FLS3N 2026 UNTUK JENJANG SD

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 21 PAYAKUMBUH

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 16 PAYAKUMBUH