Ciri dan Corak Kehidupan Masyarakat Prasejarah Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
RESUME
Ciri dan Corak Kehidupan Masyarakat Prasejarah Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut Dosen Pengampu : Drs. Destel Meri, M.Pd
disusun oleh Mahasiswa :
Rhamanda Yudha Pratomo
NIM : 2510007722005
A. MENURUT REFERENSI
Menurut Dr. R. SoekmonoDr. R. Soekmono, arkeolog terkemuka Indonesia dan penulis Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1, membahas masa prasejarah sebagai fondasi kebudayaan Nusantara.
B. LATAR BELAKANG
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (sering disebut Mesolithikum) merupakan transisi dari tingkat sederhana (Paleolithikum). Menurut Soekmono, periode ini ditandai kemajuan teknologi dan pola hidup yang lebih adaptif, meski masih nomaden dan bergantung alam. Soekmono menekankan bahwa ini bukan fase "primitif" semata, melainkan dasar eksistensi manusia di kepulauan Indonesia sebelum beralih ke pertanian menetap.
C. CIRI-CIRI
🟥 Ciri-ciri utama kehidupan sosial-ekonomi:Pola pengumpulan makanan: Masih berburu binatang liar dan mengumpul tumbuhan, tapi tingkat lanjut: mampu kumpulkan makanan berlebih dari hasil berkebun sederhana atau meramu, sehingga mulai semi-menetap di gua atau tempat terbuka. Mereka bergantung alam sekitar, dengan perempuan mengumpul dan laki-laki berburu.Alat dan teknologi: Alat batu lebih halus seperti kapak perimbas, kapak genggam, kapak penatah, batu serpih, serta alat tanduk yang dihaluskan. Temuan di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan menunjukkan kemajuan dari alat kasar Paleolithikum.Kehidupan sosial: Hidup dalam kelompok kecil (band), nomaden tapi mulai bertempat di goa-goa.
⬜ Ciri-ciri utama kehidupan sosial dan budaya meliputi: Organisasi sosial: Hidup dalam kelompok kecil (10-30 orang) dengan pemimpin yang dihormati, menggunakan bahasa isyarat atau suara sederhana untuk komunikasi. Kelompok ini bersifat kekerabatan, saling bergantung untuk bertahan hidup.Alat dan teknologi: Alat dari batu kecil (kapak persegi, mata panah), tulang, kulit kerang, dan kayu, termasuk jaring ikan dan tombak. Ini menandai kemajuan dari alat kasar Paleolitikum, dengan bukti di situs seperti Pacitan, Ngandong, dan Sangiran.Manusia pendukung: Ras Mongoloid dan Austromelanesoid dengan tubuh kecil, kulit kuning kecokelatan, rambut lurus, dan adaptasi maritim di kepulauan Nusantara.Kepercayaan dan seni: Mulai ada upacara pemakaman sederhana dan lukisan gua, menunjukkan kesadaran spiritual awal, meski belum ada sistem kepercayaan kompleks.
D. CORAK-CORAK
Ada pembagian kerja gender, struktur sosial sederhana, dan kemungkinan ritual awal seperti penguburan. Soekmono soroti penyebaran luas di Nusantara, basis kebudayaan modern.Corak kehidupan secara keseluruhan: Corak ini mencerminkan adaptasi cerdas terhadap lingkungan tropis Indonesia, dengan peningkatan efisiensi berburu-meramu yang memungkinkan akumulasi surplus makanan. Soekmono dalam karyanya klasifikasikan ini sebagai tahap menuju Neolithikum, di mana kebudayaan mulai tersebar luas.
E. KESIMPULAN
Masyarakat prasejarah pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (setara dengan Mesolitikum Akhir atau Holosen di Indonesia) menunjukkan perkembangan signifikan dari tahap sederhana (Paleolitikum). Mereka mulai beralih dari pola hidup nomaden penuh menjadi semi-nomaden atau semi-permanen, dengan tinggal di gua-gua alam, tepi pantai, atau sungai untuk memudahkan akses makanan. Corak ekonomi utama tetap bergantung pada alam: berburu hewan liar, menangkap ikan, mengumpul kerang, buah-buahan, dan akar-akaran, tetapi dengan efisiensi lebih tinggi berkat alat yang lebih halus. Secara keseluruhan, masa ini merupakan transisi krusial menuju kehidupan menetap (perundagian dan bercocok tanam), di mana manusia Nusantara seperti dijelaskan Dr. Soekmono, membentuk dasar adaptasi lingkungan kepulauan dengan eksploitasi sumber daya laut dan darat yang lebih terorganisir.
F. LAMPIRAN GAMBAR
Komentar
Posting Komentar