PENGERTIAN SEJARAH SECARA NEGATIF DAN POSITIF

MATA KULIAH : PENGANTAR ILMU SEJARAH 
Judul : PENGERTIAN SEJARAH SECARA NEGATIF DAN POSITIF 

di susun resume oleh : RHAMANDA YUDHA PRATOMO. 
NIM : 2510007722005 


A. PENGERTIAN SEJARAH SECARA NEGATIF
1. Sejarah Bukan Mitos (Bukan Mitos Sejarah)Sejarah bukan mitos karena mitos bersifat tradisi lisan yang imajinatif, tidak dapat diverifikasi, dan sering mengandung unsur supernatural atau dongeng untuk menjelaskan fenomena alam atau nilai budaya. Mitos dianggap benar oleh penceritanya, tapi tidak didukung bukti konkret seperti dokumen, artefak, atau jejak fisik. Sebaliknya, sejarah adalah kajian peristiwa nyata yang terjadi di masa lalu, direkonstruksi melalui bukti yang dapat diverifikasi untuk mencapai objektivitas kritis.Contoh perbedaan: Mitos seperti legenda penciptaan dunia (misalnya, kisah Yunani) berfungsi membentuk identitas budaya tapi tidak faktual. Sejarah, seperti Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, didasarkan pada dokumen asli dan saksi mata, bukan cerita lisan yang berubah-ubah . Menurut Kuntowijoyo, sejarah menghindari "mitos belaka" karena fokus pada fakta empiris, bukan spekulasi .Alasan negatif: Jika sejarah dijadikan mitos, ia kehilangan nilai ilmiahnya sebagai catatan perubahan manusia yang unik dan terperinci.

2. Sejarah Bukan Filsafat Sejarah bukan filsafat karena filsafat bersifat abstrak, spekulatif, dan mencari hukum umum atau prinsip mutlak tentang keberadaan, moral, atau tujuan hidup (misalnya, filsafat materialisme historis yang mengandaikan pola sejarah secara umum). Sejarah, sebaliknya, konkrit dan particularia mempelajari peristiwa spesifik dengan waktu, tempat, dan tokoh tertentu, tanpa generalisasi angan-angan. Filsafat sejarah (seperti yang dibahas Voltaire) bisa terkait, tapi sejarah itu sendiri bukan filsafat karena menghindari moralisasi atau abstraksi yang membuatnya tidak ilmiah.Contoh perbedaan: Filsafat bertanya "Apa makna kehidupan secara umum?" sementara sejarah bertanya "Apa yang terjadi pada Perang Dunia II di Eropa pada 1939-1945?" dan merekonstruksinya berdasarkan bukti . Kuntowijoyo menekankan bahwa sejarah bisa "terjatuh" menjadi tidak ilmiah jika dimoralkan seperti filsafat, karena sejarah fokus pada fakta tertentu, bukan pikiran umum Alasan negatif: Sejarah menghindari spekulasi filsafat agar tetap sebagai ilmu empiris tentang manusia di ruang dan waktu spesifik, bukan gambaran angan-angan.

3. Sejarah Bukan Ilmu Alam Sejarah bukan ilmu alam karena ilmu alam (seperti fisika atau biologi) bersifat nomothetis—mencari hukum umum yang tetap, dapat diulang melalui eksperimen, dan berlaku universal tanpa memandang waktu atau tempat (misalnya, hukum gravitasi berlaku di mana saja). Sejarah bersifat ideografis: ia mengkaji peristiwa unik yang hanya terjadi sekali, melibatkan manusia sebagai subjek berpikir dan berubah, serta dipengaruhi subjektivitas. Objek sejarah adalah aktivitas manusia di masa lalu, bukan benda mati atau fenomena alam yang statis.Contoh perbedaan: Ilmu alam bisa mengulang percobaan (seperti memanaskan air untuk melihat mendidih pada 100°C), tapi sejarah tidak bisa "mengulang" peristiwa seperti Revolusi Industri—hanya merekonstruksinya dari sumber. Kuntowijoyo menyatakan sejarah berbeda karena "hanya satu kali terjadi dan mengurus tentang manusia dan waktu," bukan hukum tetap seperti ilmu alam . Ini juga berlaku untuk mobilitas sosial: sejarah spesifik (kapan dan di mana), bukan general seperti ilmu alam Alasan negatif: Sejarah mengikuti perkembangan zaman dan subjektivitas manusia, sehingga tidak bisa ditegakkan sebagai hukum tetap seperti ilmu alam.

4. Sejarah Bukan Sastra Sejarah bukan sastra karena sastra bersifat fiksi, subjektif, dan imajinatif hasil kreasi individu pengarang dengan hiperbola, metafor, atau elemen dramatis untuk membangun dunia naratif (misalnya, novel romansa). Sejarah adalah fakta empiris yang faktual, intersubjektif (dibangun dari bukti bersama), dan bertujuan merekonstruksi peristiwa nyata tanpa penambahan imajinasi. Meski narasi sejarah bisa indah, ia tetap terikat pada kebenaran historis, bukan akhir terbuka seperti sastra.Contoh perbedaan: Sastra seperti novel Laskar Pelangi mengandung elemen imajinatif untuk pesan moral, sementara sejarah seperti kisah Wali Songo didasarkan pada bukti seperti primbon Sunan Bonang, bukan dongeng . Kuntowijoyo tegas: "Sejarah itu kenyataan, faktual. Sedangkan sastra merupakan hasil imajinasi pengarang" . Sejarah empiris tapi tidak hiperbolis seperti sastra Alasan negatif: Jika sejarah jadi sastra, ia kehilangan objektivitas; sejarah adalah rekonstruksi fakta untuk pemahaman masa kini, bukan hiburan fiksi



B. PENGERTIAN SEJARAH SECARA POSITIF 

1. Sejarah sebagai Ilmu Secara positif, sejarah didefinisikan sebagai ilmu tentang manusia, waktu, dan makna sosial dalam peristiwa tertentu yang terperinci. Ini adalah disiplin ilmu humaniora yang mempelajari peristiwa masa lalu secara sistematis, berdasarkan bukti, untuk memahami perkembangan manusia dan masyarakat. Berikut penjelasan rinci:

2.Sejarah sebagai ilmu tentang manusia: Objek utama sejarah adalah manusia sebagai pelaku dan subjek peristiwa. Sejarah mengkaji tindakan, interaksi, dan dampak manusia terhadap masyarakat, budaya, politik, dan ekonomi. Manusia bukan hanya aktor, tapi juga dipengaruhi oleh konteks sosialnya. Contoh: Sejarah Revolusi Indonesia mempelajari perjuangan manusia seperti Soekarno untuk kemerdekaan, bukan sekadar kronologi, tapi dinamika sosialnya .

3. Sejarah sebagai ilmu tentang waktu: Waktu adalah dimensi kunci, mencakup empat konsep utama (menurut Kuntowijoyo):Perkembangan: Perubahan bertahap dari sederhana ke kompleks (misalnya, evolusi masyarakat agraris ke industri).Kesinambungan: Kelanjutan peristiwa masa lalu ke masa kini (misalnya, pengaruh kolonialisme Belanda pada ekonomi Indonesia hari ini).Pengulangan: Pola berulang dalam sejarah (misalnya, siklus revolusi di berbagai negara).Perubahan: Transformasi radikal (misalnya, runtuhnya kerajaan Majapahit). Waktu absolut (tanggal spesifik) dan relatif (era atau periode) membantu mengontekstualisasikan peristiwa .

4. Sejarah sebagai ilmu tentang makna sosial (atau "makanan sosial" yang mungkin dimaksud sebagai aspek sosial/nutrisi sosial masyarakat): Sejarah mengungkap makna sosial dari peristiwa, termasuk dampaknya terhadap struktur masyarakat, seperti perubahan pola makan atau gizi yang mencerminkan dinamika sosial-ekonomi. Misalnya, sejarah ilmu gizi menunjukkan bagaimana makanan memengaruhi kesehatan masyarakat (dari zaman purba hingga modern), termasuk aspek sosial seperti distribusi makanan berdasarkan status sosial atau budaya. Ini bukan hanya fakta, tapi analisis bagaimana peristiwa membentuk "nutrisi sosial" seperti keterikatan komunal atau perubahan gaya hidup. 

5. Sejarah sebagai ilmu sosial menekankan rekonstruksi faktual untuk memahami pola sosial, seperti penyebaran agama atau ekonomi Sejarah tentang sesuatu yang tertentu, satu-satunya, dan terperinci: Sejarah bersifat partikular (spesifik pada peristiwa unik), ideografis (menggambarkan detail tunggal), dan diakronis (melihat urutan waktu). Iniakannya dari ilmu nomotetik (seperti fisika) yang mencari hukum umum. Contoh: Sejarah Perang Dunia II difokuskan pada peristiwa spesifik seperti Pearl Harbor (1941), dengan detail tokoh (Hitler), tempat (Eropa-Pasifik), dan dampak sosialnya, bukan generalisasi abstrak Sejarah sebagai ilmu memenuhi ciri-ciri seperti empiris (berbasis bukti), memiliki metode (heuristik, kritik, interpretasi), teori (filsafat sejarah kritis), dan generalisasi (pola sosial). Tujuannya: memahami masa lalu untuk membimbing masa kini dan depan, seperti transformasi sosial di Indonesia. 


PENJELASAN DETAIL : 
MISTERI HILANGNYA BERJUTA MANUSKRIP ILMU ISLAM—APA YANG SEBENARNYA BERLAKU?

Pada tahun 1258 Masihi, sejarah menyaksikan kehancuran salah satu pusat tamadun terbesar dunia—Baghdad. Kota yang pernah menjadi pusat ilmu dan intelektual Islam ini jatuh ke tangan tentera Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Dalam serangan yang berlangsung selama beberapa minggu, ribuan penduduk dibunuh, bangunan-bangunan penting dimusnahkan, dan perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan khazanah ilmu bertahun lamanya lenyap dalam sekelip mata. Namun, satu persoalan besar masih membelenggu para sejarawan hingga hari ini—ke mana perginya berjuta-juta manuskrip ilmu Islam yang pernah mengisi perpustakaan Baitul Hikmah? Adakah benar ia musnah sepenuhnya, atau mungkinkah sebahagiannya masih tersimpan di suatu tempat yang belum diketahui?

Salah satu kisah paling terkenal yang sering disebut ialah bagaimana Mongol membuang ribuan manuskrip ke dalam Sungai Tigris sehingga airnya berubah warna menjadi hitam kerana dakwat dari buku-buku yang musnah. Kisah ini begitu berulang dalam pelbagai catatan sejarah sehingga dianggap fakta, tetapi sejauh mana kebenarannya? Jika benar Mongol membuang berjuta-juta manuskrip ke dalam sungai, bagaimana mereka melakukannya dalam tempoh yang begitu singkat? Adakah mereka mempunyai cukup masa dan tenaga untuk mengangkat serta membuang sebegitu banyak bahan keilmuan ke dalam air? Dan lebih penting lagi, mengapa tiada bukti saintifik yang membuktikan kewujudan dakwat dalam dasar sungai itu hari ini? Adakah mungkin kisah ini sekadar simbolik kepada kehancuran ilmu Islam, tetapi sebenarnya ada perkara yang lebih besar berlaku di sebaliknya?

Terdapat teori yang mengatakan bahawa sebahagian besar manuskrip itu sebenarnya tidak dimusnahkan, tetapi dirampas dan dibawa ke tempat lain. Mongol bukan sekadar bangsa perosak, mereka juga bijak dalam memanfaatkan kekayaan yang mereka temui. Tidak mustahil jika mereka mengambil sebahagian besar buku-buku ini dan menghantarnya ke ibu kota mereka di Karakorum, atau mungkin ke pusat-pusat pentadbiran mereka di Parsi dan Asia Tengah. Malah, sejarah membuktikan bahawa selepas kejatuhan Baghdad, secara tiba-tiba muncul pelbagai manuskrip keilmuan dalam bahasa Latin di Eropah. Mungkinkah ilmu ini sebenarnya tidak hilang, tetapi telah dipindahkan secara senyap ke tamadun lain?

Teori yang lebih kontroversi pula menyatakan bahawa sebahagian besar manuskrip ini mungkin masih wujud tetapi tersembunyi. Ada dakwaan bahawa beberapa ulama Baghdad yang sedar akan serangan Mongol sempat menyelamatkan manuskrip penting dan menyembunyikannya di lokasi-lokasi rahsia. Persoalannya, di manakah lokasi itu? Adakah ia dibawa ke Andalusia yang ketika itu masih merupakan pusat ilmu Islam di Eropah? Atau mungkinkah ia masih tersimpan di sebuah perpustakaan rahsia yang belum ditemui? Lebih menarik lagi, ada yang percaya bahawa sebahagian manuskrip ini kini berada di arkib rahsia Vatican, tersimpan rapi dan tidak boleh diakses oleh umum. Jika benar, mengapa ia disorokkan?

Selepas kejatuhan Baghdad, satu perkara yang cukup mencurigakan berlaku. Eropah, yang sebelum ini berada dalam Zaman Gelap dan jauh ketinggalan dalam bidang ilmu, tiba-tiba mengalami kebangkitan besar-besaran. Revolusi keilmuan mereka bermula hanya beberapa dekad selepas Baghdad hancur. Adakah ini satu kebetulan, atau adakah ilmu Islam yang "hilang" sebenarnya telah diterjemahkan dan menjadi asas kepada Zaman Renaissance? Malah, ada yang berpendapat bahawa jika tamadun Islam tidak diganggu dan keilmuan mereka tidak terputus, manusia mungkin sudah sampai ke bulan ratusan tahun lebih awal. Ilmuwan seperti Al-Khwarizmi telah meletakkan asas kepada algebra, Ibn Sina telah membangunkan sistem perubatan moden, dan Al-Biruni telah mencipta sistem astronomi yang mengagumkan—bayangkan jika semua ini dapat dikembangkan tanpa gangguan.

Hingga ke hari ini, tiada siapa yang benar-benar tahu berapa banyak ilmu yang telah hilang ketika kejatuhan Baghdad. Apa yang pasti, dunia telah kehilangan satu tamadun ilmu yang sangat maju, dan kesannya masih dirasai hingga sekarang. 

AKSARA JAWA DAN MAKNANYA
Setiap aksara memiliki makna filosofis dan cerita yang terkandung dalam legenda Aji Saka. Aksara Jawa tidak hanya sebagai sistem tulisan, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan dan ajaran kebijaksanaan yang mendalam.
Aksara Jawa dan Maknanya
1. ꦲ (Ha) → Kehidupan (Hana = ada)
2. ꦤ (Na) → Kekuasaan (Nata = raja)
3. ꦕ (Ca) → Kebijakan (Catur = bijaksana)
4. ꦫ (Ra) → Perasaan (Rasa = perasaan, hati)
5. ꦠ (Ka) → Kekuatan (Karsa = kehendak)
6. ꦏ (Da) → Kebesaran (Daya = kekuatan)
7. ꦢ (Ta) → Kepatuhan (Tatwa = kebenaran)
8. ꦠ (Sa) → Kesabaran (Sabar = ketahanan)
9. ꦱ (Wa) → Kedamaian (Waskita = kebijaksanaan)
10. ꦮ (La) → Kehormatan (Laku = perilaku)
11. ꦭ (Pa) → Kesucian (Pawitra = murni)
12. ꦥ (Dha) → Keseimbangan (Dharma = tugas suci)
13. ꦝ (Ja) → Kejayaan (Jaya = kemenangan)
14. ꦗ (Ya) → Kesetiaan (Yakta = setia)
15. ꦪ (Nya) → Kebersamaan (Nyata = jelas, nyata)
16. ꦚ (Ma) → Kemuliaan (Manungsa = manusia)
17. ꦩ (Ga) → Kesadaran (Gatra = bentuk, tubuh)
18. ꦒ (Ba) → Kebajikan (Budi = kebajikan)
19. ꦧ (Tha) → Kesempurnaan (Tata = tertib)
20. ꦛ (Nga) → Akhir, kehampaan (Suwung = kosong)

Huruf-huruf tersebut memiliki filsafah dalam susunan Sastra Sarimbangan yang terdiri atas empat warga (empat baris) yang masing-masing mencakupi lima sastra (lima suku kata):

• Ha Na Ca Ra Ka
Artinya ada utusan Tuhan, yaitu manusia. Manusia diciptakan untuk menjaga kelestarian hidup dan alam. 

• Da Ta Sa Wa La
Artinya manusia tidak bisa mengelak dari takdirnya. Manusia harus menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. 

• Pa Dha Ja Ya Nya
Artinya Tuhan menciptakan sesuatu di dunia dengan pertimbangan dan berpasangan. Manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi yang ada. 

• Ma Ga Ba Tha Nga
Artinya manusia pasti memiliki dosa, lupa, kesalahan, kesialan, dan mati. Manusia harus selalu ingat dan waspada.

RUSAKNYA TATANAN MATARAM ITU SUDAH DI PREDIKSI OLEH BELIAU KANJENG SINUHUN KALIJAGA 

RUSAKNYA MATARAM MULAI DARI CICIT CICITNYA PANEMBAHAN SENOPATI INGALOGO

KARENA BERSATU BERHUBUNGAN DENGAN PENJAJAH BELANDA.

PANGERAN DIPONEGORO MEMILIH KELUAR DAN MENGADAKAN PERLAWANAN TERHADAP PENJAJAHAN BELANDA, YANG AKHIRNYA DI ASINGKAN DI SULAWESI BERSAMA AYAH PUJANGGANYA RADEN MAS NGABEHI RONGGO WARSITO.

SEPENINGGALAN AYAH RADEN MAS NGABEHI RONGGO WARSITO SEMPAT MENJADI PUJANGGA DI KERATON MATARAM, KARENA BANYAK PERTENTANGAN AKHIRNYA BELIAU MEMILIH KELUAR, BERKELANA DAN TIDAK BERHUBUNGAN LAGI DENGAN PIHAK KERATON.

PERTENTANGAN BERBEDAAN KEYAKINAN PENDAPAT ITU SUDAH TERJADI SEJAK JAMAN KERAJAAN MATARAM SETELAH MASA CICIT-CICIT MATARAM..

Berdasarkan serat ini Belanda itu ada di Nusantara mulai dari setelah masa Cicit dari Pendiri Raja Mataram Pertama Beliau Panembahan Senopati ing Alogo.

Janganlah bersedih hati menghadapi ujian ini Senopati, semua yang kukatakan ini adalah Ilapat dari Gusti Allah demi memberimu petunujuk atas permohonanmu kepada Gusti Allah siang dan malam, wahyu keprabon untuk memimpin umat di tanah jawa ini telah berpindah dari Sultan Hadiwijaya kepadamu karena Pajang telah rusak oleh orang-orang yang serakah. Namun ketahuilah ...

Mataram akan berumur pendek dari mulai engkau, anak dan cucumu, cucumu akan menjadi raja yang sangat kaya, mataram akan mencapai puncak kejayaannya, namun Mataram akan rusak oleh cicitmu....

karena bersekutu dengan orang-orang asing bertubuh tinggi-besar, berkulit putih, berambut seperti rambut jagung yang akan menyengsarakan seluruh umat di tanah jawa ini. 

kerusakan Mataram akan ditandai dengan muculnya bintang kemukus setiap malam, sering terjadi gerhana matahari dan 
gerhana bulan, 
Gunung Merapi sering bergolak dahsyat”..
 
 
S I N O M

Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karenak tyasing sesama.

(Contohlah perbuatan yang sangat baik, bagi penduduk di tanah Jawa, dari seorang tokoh besar Mataram, Panembahan Senopati, berusaha dengan kesungguhan hatinya, mengendapkan hawa nafsu, dengan melakukan olah samadi, baik siang dan malam, mewujudkan perasaan senang hatinya bagi sesama insan hidup).

“Cerita Aji Saka: Lambang Mitologi dan Awal Peradaban Jawa”

Kisah Aji Saka adalah legenda penuh makna dalam budaya Jawa. Sebagai cerita yang tercatat dalam Serat Sindula, Serat Babad Pajajaran Kuda Laleyan, hingga Serat Witoradyo, ia menghadirkan sosok pahlawan yang tak hanya gagah, tetapi juga membawa semangat penyelamatan. Sejarawan seperti Schrieke dan Raffles menyebut Aji Saka sebagai tokoh yang menjadi simbol perlawanan dan transformasi budaya.

Namun, lebih dari sekadar legenda kepahlawanan, Aji Saka juga dipandang sebagai mitos yang mencerminkan kepercayaan masyarakat Jawa kuno. Ceritanya penuh lambang, salah satunya adalah simbol masuknya pengaruh Hindu ke Jawa. Dalam narasi ini, Aji Saka digambarkan sebagai seorang tokoh mesianis yang membebaskan rakyat dari kezaliman Raja Dewata Cengkar, seorang penguasa lalim yang konon memakan manusia.

Sumber Tradisional tentang Aji Saka
 1. Serat Jawi (1950)
Dalam naskah ini, Nyai Randa memperingatkan bahwa seorang Brahmana muda bernama Aji Saka, yang konon sakti dan berasal dari tanah seberang, akan datang untuk membawa perubahan.
 2. Primbon Jayabaya (1931)
Disebutkan bahwa Dewata Cengkar, raja di Medhang Kamulan, memerintah dengan kejam hingga kedatangan Aji Saka dari tanah Arab, yang kelak menjadi raja bergelar Sri Maha Prabu Lobang Widayaka.
 3. Serat Jangka Jagad (1957)
Dikisahkan bahwa Aji Saka adalah seorang Brahmana sakti yang berhasil mengalahkan Dewata Cengkar di Medhang Kamulan.
 4. Serat Witoradyo (1922)
Dalam versi ini, Aji Saka digambarkan sebagai seorang guru besar yang mendirikan perguruan di Ujung Kulon. Ia mengajarkan ilmu kesusastraan, inkarnasi, dan agama sebelum melanjutkan perjalanan ke Medhang Kamulan.

Makna Sejarah dan Mitologi

Meski tidak ada bukti sejarah berupa prasasti yang mendukung keberadaan Aji Saka, kisah ini sering dianggap sebagai alegori. Sebuah sengkalan Nir Wuk Tanpa Jalu yang merujuk pada masa tanpa kekuatan laki-laki dipercaya melambangkan penindasan rakyat untuk pembangunan candi-candi seperti Borobudur dan Sewu. Kehancuran Medhang Kamulan juga dianggap mencerminkan akhir suatu zaman di Jawa Tengah.

Letak Medhang Kamulan

Medhang Kamulan disebut-sebut sebagai “ibu kota pertama” atau “asal mula kejadian.” Namun, lokasi pasti kerajaan ini terus menjadi perdebatan. Ada beberapa pendapat:
 • Prambanan
Banyak candi ditemukan di sekitar wilayah ini, termasuk Candi Sewu dan Candi Lara Jonggrang.
 • Purwodadi, Grobogan
Desa Medhang Kamulan dan Kesanga diyakini terkait dengan peninggalan istana kuno.
 • Bagelen, Purworejo
Disebut dalam prasasti dan cerita rakyat sebagai salah satu lokasi kemungkinan.

Berdasarkan catatan sejarah, ibu kota kerajaan Mataram memang sering berpindah-pindah, mulai dari Purwodadi, Prambanan, hingga ke Jawa Timur. Salah satu alasan utama adalah bencana alam, serangan musuh, atau kebutuhan strategis.

Kesimpulan

Cerita Aji Saka lebih dari sekadar legenda. Ia adalah simbol transformasi, mitos yang meneguhkan identitas, dan cerminan perubahan besar di tanah Jawa. Dengan segala perbedaan versi dan interpretasi, kisah ini tetap menjadi bagian penting dari perjalanan budaya Nusantara, yang tak lekang oleh waktu. 

Diam itu Emas. Banyak Orang Cerdik, Pandai dan pintar Cakap dalam spek_up bicara pada orang lain dan baik, tapi kebanyakan mereka gagal untuk jadi seorang pendengar yg baik. 

Aristoteles. Bayangkan seorang pemikir yang hidup lebih dari 2.300 tahun yang lalu, namun gagasan dan pengaruhnya masih terasa hingga saat ini. Itulah Aristoteles, seorang filsuf Yunani yg lahir di Stagira tahun 384 SM. 

Murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, Aristoteles adalah salah satu tokoh yg paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran manusia.
         
Aristoteles dikenal karena rasa ingin tahunya yang tak terpuaskan. Dia tidak hanya fokus pada satu bidang, tetapi mengeksplorasi hampir setiap aspek pengetahuan yang ada pada zamannya. 

Dia menulis tentang logika, etika, politik, biologi, fisika, metafisika, dan banyak lagi. 

Dengan begitu, dia menunjukkan bahwa manusia mampu memahami dunia di sekitar mereka secara komprehensif dan mendalam. 

Semangatnya untuk belajar dan memahami segala sesuatu mengajarkan kita pentingnya rasa ingin tahu dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan.
        
Aristoteles adalah simbol dari semangat manusia untuk memahami, menjelajah, dan memperbaiki dunia. Karyanya yang luas dan mendalam menunjukkan bahwa dengan dedikasi, rasa ingin tahu, dan komitmen terhadap kebenaran, kita dapat mencapai pengetahuan yang luar biasa dan membuat perubahan positif dalam dunia kita. 

Dengan belajar dari Aristoteles, kita diingatkan untuk selalu mengejar pengetahuan, berpikir kritis, hidup dengan kebajikan, dan berkontribusi pada masyarakat. 

Warisannya menginspirasi kita untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, menjadikan dunia tempat yang lebih baik melalui tindakan dan pemikiran kita.

Ma'mun semua warisan filsafat dari Aristoteles ini hanya berlaku bagi orang-orang yg memiliki tradisi berfikir, bertindak dan menganalisis lalu kemudian menemukan mozaik puzzle misteri teka-teki dalam perilaku dunia kehidupan. 

Manusia Wajak, Leluhur Nusantara.

Oleh LintangAngrem 

Tahun 1888 ditemukan tengkorak manusia di Wajak Tulungagung Jawa Timur, tengkorak itu diberi kode nama sebagai Manusia Wajak.

Pada awalnya Manusia Wajak dikategorikan sebagai sub species tersendiri yaitu Homo wadjakensis oleh Dubois, lalu dikategorikan sejenis sub species Homo Erectus oleh Pramujiono.

Tapi Pada Tahun 2013 diadakan penelitian ulang kerangka manusia Wajak dengan radiocarbon, oleh gabungan peneliti dari Belanda, Inggris, Australia & Yunani, yg tercantum dalam Journal of Human Evolution no 64. 

Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan jika Manusia Wajak adalah Homo Sapiens atau Manusia Modern yg hidup sekitar 27000-40000 tahun yg lalu.

Menurut Anthropologist Paul Storm, penggambaran Fisik Manusia Wajak yg hidup dijaman itu kemungkinan besar adalah seperti Manusia Jawa modern.
Boleh dibilang Manusia Wajak adalah leluhur langsung Manusia Jawa Modern sekarang ini.

Hasil Riset Ini menyatakan peradaban manusia di Jawa Timur sudah ada 40.000 tahun yang lalu, dan menjadi leluhur manusia Jawa & juga pastinya manusia Sunda modern, dan bahkan mungkin satu dari kelompok leluhur suku² di nusantara.

𝗣𝗲𝘁𝗮 𝗞𝘂𝗻𝗼 𝗱𝗮𝗻 𝗟𝗮𝗽𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗵 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗮𝘄𝗮𝘀𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗻𝗮𝗺𝗮 𝗠𝗮𝗻𝗮𝗻𝗰𝗮𝗯𝗼 / 𝗠𝗶𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗯𝗮𝘂 

Penjelajah Yunani, Megasthenes, pada 290 SM juga menulis tentang kekaisaran bernama “Manancabo” di pesisir barat Sumatra. 

Sumber lain, seperti peta kuno karya Giovanni Battista Ramusio (1485-1557), juga mencatat nama kerajaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa nama Minangkabau sudah ada sejak lama, bahkan sebelum kisah adu kerbau muncul dalam legenda rakyat.

Duarte Barbosa, pelayar asal Portugal yang melakukan pelayaran sepanjang pesisir Samudra Hindia, mulai dari Afrika Timur hingga kepulauan di Indonesia tahun 1512 dalam deskripsinya tentang Sumatra juga mencatat nama Manancabo, yang dikenal sebagai daerah kaya emas. 

Narasumber "secara abstrak" : ( ROMO ) Donny Wibowo, S.S, M.Pd 
Seorang DOSEN dari UNIVERSITAS INDONESIA di jurusan ANTROPOLOGI. 










Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUMPULAN NASKAH MENDONGENG FLS3N 2026 UNTUK JENJANG SD

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 21 PAYAKUMBUH

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 16 PAYAKUMBUH