ILMU PENGANTAR SEJARAH : "SEJARAH SEBAGAI ILMU DAN SENI"

Di resume : Rhamanda Yudha Pratomo 
Dari buku referensi : Kuntowijoyo ( Pengantar ilmu sejarah )
NIM : 2510007722005 
DOSEN PENGAMPU : Fikrul Hanif Sufyan, M.Pd




A. Pengertian SEJARAH SEBAGAI ILMU SENI 
Sejarah sering kali dipandang sebagai perpaduan antara ilmu dan seni. Sebagai ilmu, sejarah menggunakan metode sistematis seperti pengumpulan sumber, kritik historis (internal dan eksternal), dan interpretasi berbasis bukti untuk mencari kebenaran objektif tentang masa lalu. Sebagai seni, sejarah melibatkan kreativitas, narasi yang menarik, dan interpretasi subjektif untuk menyampaikan cerita yang membangkitkan emosi dan pemahaman mendalam. Namun, pandangan ini menuai kritik, terutama karena ketegangan antara objektivitas ilmiah dan subjektivitas artistik. Kritik ini muncul dari perspektif historiografi, filsafat sejarah, dan perkembangan disiplin ilmu sejarah, baik secara global maupun di Indonesia.

1. Ringkasan "Sejarah sebagai Ilmu dan Seni" dari KuntowijoyoBuku Pengantar Ilmu Sejarah karya Kuntowijoyo (edisi pertama 1985, diterbitkan oleh Bentang Budaya) membahas sejarah secara komprehensif, termasuk bab khusus tentang "Sejarah sebagai Ilmu dan Seni". Bagian ini menjelaskan dualitas sejarah sebagai disiplin ilmiah yang ketat sekaligus bentuk seni yang kreatif. Kuntowijoyo, seorang sejarawan dan sastrawan Indonesia, menekankan bahwa sejarah bukan hanya kumpulan fakta masa lalu, melainkan rekonstruksi yang berguna untuk masa kini dan mendatang. Berikut ringkasan utama berdasarkan isi buku dan analisis terkait.Sejarah sebagai IlmuKuntowijoyo mendefinisikan sejarah sebagai ilmu karena memenuhi kriteria dasar ilmu pengetahuan: bersifat empiris (berdasarkan bukti nyata seperti dokumen, artefak, atau saksi mata), memiliki objek studi (peristiwa masa lalu yang melibatkan manusia), teori dan generalisasi (seperti pola perubahan sosial atau siklus peradaban), serta metode sistematis (kritik sumber, analisis, dan interpretasi).Fungsi utama sebagai ilmu: Sejarah berperan sebagai sumber pengetahuan tentang masa lampau, membantu meneliti kejadian manusia dan masyarakat. Ia diakronis (mengurutkan waktu), ideografis (fokus pada keunikan peristiwa), dan unik (tidak bisa diulang seperti eksperimen sains alam). Kuntowijoyo menekankan pentingnya analisis filsafat untuk menghindari subjektivitas, dengan menggunakan nalar kritis dan ilmu bantu seperti arkeologi atau antropologi .Contoh: Sejarawan harus membedah fakta secara kritis, misalnya rekonstruksi peristiwa Revolusi Indonesia, untuk menghasilkan kesimpulan ilmiah yang didukung data, bukan sekadar narasi.Sejarah sebagai ilmu juga terkait dengan konsep "ilmu sosial profetik" Kuntowijoyo, yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam (humanisasi, liberasi, transendensi) untuk membuat sejarah lebih relevan secara etis dan sosial .Sejarah sebagai SeniDi sisi lain, Kuntowijoyo melihat sejarah sebagai seni karena melibatkan kreativitas dalam penyajian. Tidak semua peradaban memisahkan ilmu dan seni; misalnya, di Jawa hingga abad ke-19, keduanya menyatu dalam bentuk sastra atau cerita lisan. Sejarawan seperti seniman harus "memperindah" cerita agar hidup dan menarik, sambil tetap setia pada fakta.

2. Fungsi utama sebagai seni: Menurut George Macaulay Trevelyan (yang dikutip Kuntowijoyo), seni sejarah membuat peristiwa "hidup" melalui narasi yang emosional dan imajinatif, sehingga pembaca merasakan dampaknya. Ini termasuk pemilihan kata, struktur cerita, dan interpretasi yang membangkitkan empati .Contoh: Sejarah seperti novel, di mana sejarawan merekonstruksi peristiwa (misalnya, kisah Diponegoro) dengan gaya sastra untuk menginspirasi, bukan hanya mendata. Kuntowijoyo sendiri sebagai sastrawan mencontohkan ini dalam novelnya seperti Mantra Pejinak Ular.Hubungan Ilmu dan Seni dalam SejarahKuntowijoyo menekankan keseimbangan: ilmu memberikan fondasi faktual, sementara seni membuatnya accessible dan bermakna. Tanpa seni, sejarah jadi kering; tanpa ilmu, jadi fiksi. Ini relevan untuk pendidikan sejarawan, di mana pelatihan mencakup metode ilmiah sekaligus keterampilan naratif. Buku ini juga membahas tantangan seperti subjektivitas, di mana sejarawan harus menghadap "ke belakang" seperti penumpang kereta untuk rekonstruksi akurat .Konteks Lebih LuasBuku ini terdiri dari 12 bab, mulai dari pengertian sejarah hingga hubungannya dengan ilmu lain. Kuntowijoyo (1943–2005) dikenal sebagai pemikir integral yang menggabungkan sejarah, sastra, dan agama Islam, memengaruhi studi sejarah Indonesia . Ringkasan ini didasarkan pada sumber sekunder; untuk detail lengkap, baca buku asli atau edisi terbaru.


3. Kritik Utama terhadap Sejarah sebagai Ilmu Seni : meskipun sejarah diakui sebagai ilmu sosial yang sistematis, kritik terhadapnya sering menyoroti keterbatasan dalam mencapai objektivitas mutlak. Beberapa poin kunci:Subjektivitas dan Bias Manusia: Sejarawan, sebagai individu, tidak bisa sepenuhnya lepas dari pengaruh pribadi, budaya, atau ideologi. Misalnya, interpretasi peristiwa sejarah sering dipengaruhi oleh perspektif nasionalis atau Euro-sentris, yang membuat sejarah tampak bias. Di Indonesia, historiografi kolonial sering dikritik karena menekankan superioritas Barat, mengabaikan kontribusi lokal . Kritik ini menegaskan bahwa sejarah bukanlah ilmu alam yang bisa diverifikasi melalui eksperimen berulang, melainkan bergantung pada sumber yang terbatas dan interpretasi.Kurangnya Verifikasi Empiris: Berbeda dengan ilmu pengetahuan alam, sejarah tidak bisa menguji hipotesis secara eksperimental. Kesimpulan sejarah bersifat tentatif dan bisa berubah dengan penemuan baru, seperti arkeologi atau dokumen tersembunyi. Hal ini membuat sejarah rentan terhadap revisi, yang dikritik sebagai kurang "ilmiah" oleh para positivisme . Di konteks pendidikan Indonesia, kritik ini terlihat pada kurikulum yang terlalu faktual, mengabaikan analisis kritis, sehingga gagal membangun pemikiran siswa .Euro-sentrisme dan Ketidaklengkapan: Sejarah sebagai ilmu sering dikritik karena berfokus pada narasi Barat, mengabaikan perspektif non-Eropa. Di bidang seni, art history sebagai disiplin akademik muncul pada abad ke-19 dengan bias Euro-sentris, yang mengesampingkan seni Asia atau Afrika sebagai "primitif" . Kritik ini menuntut pendekatan global yang lebih inklusif, seperti geohistory yang mengintegrasikan ekonomi dan budaya .

B. SEJARAH DALAM ILMU SENI ASAL USUL SEBAB PRA SEJARAH 

Seni beladiri SUNDANG MAJAPAHIT
SENI BELADIRI ELIT KERAJAAN MAJAPAHIT.

Sundang Majapahit adalah salah satu seni bela diri yang berasal dari Nusantara, khususnya dari Kerajaan Majapahit yang pernah berjaya pada abad ke-13 hingga ke-16.

Sundang Majapahit merupakan seni bela diri yang unik dan eksklusif, karena hanya dipelajari oleh pasukan elit dalam militer Majapahit, yaitu mereka yang berada dalam jajaran pasukan terbaik kerajaan.

Sundang Majapahit mengkombinasikan teknik pertarungan yang menggunakan teknik patahan, yaitu mematahkan tulang atau sendi lawan, dengan beberapa senjata tajam, seperti pedang dan keris di kedua tangan sebagai alat bertarung.

Sejarah Sundang Majapahit

Sundang Majapahit bermula dari sejarah Majapahit sendiri, yang merupakan kerajaan besar dengan pasukan militer yang kuat dan gagah perkasa.

Orang yang pertama kali memperkenalkan seni bela diri ini adalah Mahisa Anabrang, seorang perwira kerajaan Singasari yang bernaung di bawah panji Majapahit setelah tewasnya Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Mahisa Anabrang memperpadukan ilmu bela diri militer kerajaan Singasari dan Dharmasraya, yang terletak di Sumatera Barat, kemudian mengaplikasikannya dengan sokongan dua senjata tajam berupa pedang di tangan kiri yang disebut Sundang dan keris di tangan kanan yang disebut Taji.

Konsepnya adalah tidak menghindar, tetapi justru menyusup masuk ke area pertahanan lawan di sisi terlemahnya.

Sejarah mencatat, ilmu ini sangat kejam, karena serangannya mengalir deras sesuai unsur alam semesta yang menandainya.

Seorang Ranggalawe, yang dikenal cukup perkasa, pun harus takluk dengan tubuh tercabik-cabik di pertarungan tengah sungai melawan Mahisa Anabrang.

Kekejaman ilmu ini adalah tidak dapat dihentikan sebelum lawan ditaklukan, dia akan mengalir bak air bah yang tak terbendung.

Baca Juga: Menguak Peristiwa Runtuhnya Kerajaan Majapahit Akibat Perebutan Takhta

Sepeninggalan Mahisa Anabrang, ilmu ini diwarisi putranya, Mahisa Teruna, atau dikenal sebagai Adityawarman, raja Kerajaan Dharmasraya.

Dari prajurit-prajurit Dharmasraya inilah Sundang Majapahit berkembang ke Kepulauan Riau, Bugis, Wajo, Semenanjung Melayu, hingga ke Sulu (Filipina).

Dari berbagai daerah yang telah mewariskannya, masing-masing memiliki ciri karakter yang menandakan seni bela diri Sundang, yaitu adanya tali pengikat pergelangan pada keris dan pedangnya, karena kedua senjata harus mampu diputar berganti peran dengan cepat.

Kerajaan Dharmasraya menitik beratkan pada seni gerak patahan, Bugis mengembangkan kuncian dan tikaman (pencak sarung), dan Sulu pada kecepatan reaksi.

Unsur-unsur Sundang Majapahit

Sundang Majapahit memiliki teknik pertarungan yang terbagi menjadi beberapa unsur, yaitu:

- Sundang Gunung, yaitu unsur pertahanan yang menggunakan gerakan yang kokoh dan stabil seperti gunung.

- Sundang Kali, yaitu unsur penyerangan yang menggunakan gerakan yang lincah dan mengalir seperti air.

- Sundang Laut, yaitu unsur penaklukan yang menggunakan gerakan yang luas dan mendalam seperti laut.

- Sundang Angin, yaitu unsur penyusupan yang menggunakan gerakan yang ringan dan tak terduga seperti angin.

- Sundang Matahari, yaitu unsur perlindungan yang menggunakan gerakan yang terang dan hangat seperti matahari.

Sundang Majapahit di Masa Kini

Sayangnya, Sundang Majapahit sudah jarang dipelajari lagi di Nusantara. Bahkan, menghilang tanpa jejak.

Setelah kerajaan Majapahit hancur, seni bela diri ini menghilang dan tidak bisa ditemukan lagi.

Beberapa kerajaan yang dahulu diajarkan juga sudah banyak yang menghilang, kecuali kerajaan Sulu yang ada di Filipina.

Karena itu, seni bela diri ini masih ada di Filipina, dengan nama Kali Majapahit.

Kali Majapahit adalah salah satu seni bela diri khas Filipina yang mengadaptasi Sundang Majapahit dengan memasukkan unsur-unsur budaya dan senjata lokal Filipina, seperti pisau, tongkat, dan sarung.

Sundang Majapahit adalah salah satu warisan budaya Nusantara yang patut dilestarikan dan dikembangkan.

Seni bela diri ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga nilai filosofis dan estetis.

Sundang Majapahit mengajarkan kita untuk menghargai alam semesta dan menguasai diri sendiri.

Sundang Majapahit juga menampilkan keindahan gerak dan senjata yang khas Nusantara.

Sundang Majapahit adalah salah satu bukti kejayaan dan kekayaan Nusantara di masa lalu, yang seharusnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita di masa kini dan masa depan.

C. SEJARAH SEBAGAI ILMU SENI FILOSOFI

Sejarah silat, 
Seni bela diri tradisional yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, dan sebagian Filipina, kaya akan variasi dan pengaruh budaya. Silat merupakan warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai alat bela diri, tetapi juga mencakup aspek spiritual, sosial, dan seni. Berikut adalah garis besar sejarah silat:

 Asal Usul
Akar Budaya: Silat diperkirakan telah muncul sejak abad ke-14 Masehi atau bahkan lebih awal, sebagai bentuk seni bela diri yang dipengaruhi oleh berbagai aliran dan budaya, termasuk budaya lokal, India, Tiongkok, dan Arab.
Pengaruh Lingkungan: Dalam konteks Asia Tenggara, silat berkembang dalam masyarakat agraris yang sering menghadapi ancaman dari luar, baik berupa perampok maupun konflik antarsuku. Oleh karena itu, keberadaan seni bela diri menjadi penting untuk melindungi diri dan komunitas.

1. Perkembangan di Wilayah Indonesia
a. Beragam Aliran dan Gaya: Di Indonesia, silat memiliki ratusan aliran dan gaya, masing-masing dengan teknik, gerakan, dan filosofi yang berbeda. Beberapa aliran terkenal termasuk Pencak Silat, yang merupakan bentuk silat di Indonesia dengan berbagai organisasi dan gaya, seperti Perguruan Silat Cikalong, Persaudaraan Setia Hati Terate, dan Nahdlatul Ulama.
b. Fungsi Sosial dan Budaya: Silat bukan hanya seni bela diri, tetapi juga bagian dari tradisi dan budaya masyarakat. Silat sering dipertunjukkan dalam acara-acara adat, ritual, dan upacara, berfungsi sebagai cara untuk memperkuat identitas komunitas.

2. Era Kolonial
a. Pengaruh Kolonial: Selama masa penjajahan Belanda, praktik silat sering kali diatur dan kadang tertekan oleh kekuasaan kolonial. Namun, pada saat yang sama, silat juga menjadi simbol perlawanan dan perjuangan masyarakat melawan penindasan.
b. Perkembangan Komunitas dan Organisasi: Meskipun ada penindasan, silat tetap berkembang dengan mendirikan perguruan-perguruan untuk melestarikan dan mengajarkan keterampilan kepada generasi muda.

3. Pasca Kemerdekaan
a. Reformasi dan Globalisasi :  Setelah Indonesia merdeka, silat semakin diperkuat sebagai simbol kebanggaan nasional. Pemerintah mendukung pelestarian silat sebagai bagian dari budaya bangsa.
b. Event Internasional: Silat mulai diperkenalkan dalam berbagai kompetisi internasional. Pertandingan silat resmi diadakan di ajang olahraga seperti SEA Games, yang membantu meningkatkan pengakuan silat di tingkat internasional.

4. Silat di Era Modern
a. Popularitas Global: Saat ini, silat tidak hanya dipraktikkan di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain di Asia Tenggara serta di komunitas global. Banyak pengajaran kelompok silat dan perguruan baru didirikan untuk mengajarkan silat di luar Asia Tenggara.
b. Media dan Representasi Budaya: Silat semakin dikenal melalui media, film, dan berbagai bentuk seni pertunjukan. Misalnya, film seperti "The Raid" dan "The Raid 2" yang menampilkan seni bela diri pencak silat dalam adegan-adegan aksi telah memperkenalkan silat kepada audiens internasional.
 
Secara keseluruhan, silat adalah lebih dari sekadar seni bela diri; ia mencakup aspek budaya, spiritual, dan sosial yang mendalam. Melalui perjalanan sejarahnya, silat telah beradaptasi dan bertahan, menjadikannya bagian penting dari identitas masyarakat di Asia Tenggara dan kini semakin dikenal di seluruh dunia.

Filosofi Silat
Filosofi silat adalah aspek penting yang mendasari praktik seni bela diri ini, mencakup nilai-nilai, prinsip, dan pandangan hidup yang diajarkan bersama teknik-teknik bertarung. Filosofi ini tidak hanya berhubungan dengan keterampilan fisik, tetapi juga mencerminkan aspek spiritual, sosial, dan budaya. Berikut adalah beberapa elemen kunci dari filosofi silat:

Harmoni dengan Alam
- Keterhubungan dengan Alam: Silat mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan lingkungannya. Banyak gerakan dalam silat terinspirasi oleh alam, seperti hewan dan elemen lingkungan, sehingga menciptakan rasa hormat terhadap alam dan isinya.

Pengendalian Diri
- Disiplin dan Kontrol Diri: Salah satu aspek penting dari silat adalah pengendalian diri, baik secara fisik maupun mental. Praktisi diajarkan untuk mengontrol emosi dan reaksi mereka, tidak hanya dalam pertarungan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
- Kesadaran Diri: Silat mengajarkan pentingnya pemahaman dan kesadaran diri. Melalui latihan, praktik sering kali menekankan refleksi diri dan pengembangan karakter.
Pertahanan Diri dan Kemanusiaan
1. Filosofi Pertahanan Diri: Silat difokuskan pada seni bela diri untuk melindungi diri dan orang lain, bukan untuk menyerang atau mencari kekerasan. Mempertahankan diri dan melindungi orang yang lemah dipandang sebagai nilai luhur.
2. Moralitas dalam Pertarungan : Dalam silat, ada etika dan kode moral yang kuat. Praktisi diajarkan untuk menggunakan keterampilan mereka dengan tanggung jawab, menghormati lawan, serta menghindari penggunaan kekerasan yang tidak perlu.

Komunitas dan Persaudaraan
1. Nilai Sosial: Silat juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Latihan biasanya dilakukan dalam kelompok, menciptakan rasa komunitas dan persaudaraan. Nilai-nilai kebersamaan, kerjasama, dan saling membantu sangat ditekankan.
2. Warisan Budaya: Silat sebagai bagian dari warisan budaya mengajarkan rasa kebanggaan dan identitas. Praktisi diharapkan untuk melestarikan dan meneruskan ilmu silat kepada generasi berikutnya.

Spiritualitas
1. Pengembangan Spiritual: Beberapa aliran silat mengaitkan praktik mereka dengan dimensi spiritual, di mana latihan tidak hanya bertujuan untuk penguasaan fisik tetapi juga pencarian spiritual. Hal ini sering kali mencakup meditasi dan refleksi.
2. Kesadaran dan Ketentraman: Silat mengajarkan pentingnya ketenangan pikiran dan kesadaran saat bertindak. Ini membantu praktisi mencapai keadaan pikiran yang tenang dan fokus di dalam dan luar arena.

Keseimbangan dan Ritme
1. Gerakan yang Harmonis: Dalam silat, gerakan juga mencerminkan prinsip keseimbangan dan ritme. Setiap gerakan diatur untuk menciptakan harmoni antara tubuh dan pikiran, antara kekuatan dan kelemahan.
2. Adaptasi dan Fleksibilitas: Praktisi diajarkan untuk bisa beradaptasi dengan cepat terhadap situasi yang berbeda, baik di dalam pertarungan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, filosofi silat melampaui sekadar keterampilan bertarung. Ia mengajarkan nilai-nilai penting tentang kedamaian, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap orang lain, yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap gerak dan teknik, terdapat makna yang dalam dan ajakan untuk menjadi lebih baik, tidak hanya sebagai petarung tetapi juga sebagai individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

SILEK TUO MINANGKABAU

Silek Tuo merupakan seni bela diri tradisional yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Seni ini, yang dikenal sebagai "silat tua," tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan diri, tetapi juga mencerminkan identitas budaya yang kaya akan nilai dan sejarah.

Artikel ini akan membahas asal-usul, filosofi, teknik, perkembangan, dan upaya pelestarian Silek Tuo di masyarakat Minangkabau. Silek tuo minangkabau memiliki ciri khas gerakan yang lemah lebut dan diiringi dengan musik tradisional minangkabau yang di sebut saluang dan tambuah.

Sejarah dan Asal Usul

Silek Tuo memiliki sejarah panjang yang berakar sejak abad ke-12. Seni bela diri ini diyakini dikembangkan oleh Datuak Suri Dirajo bersama empat pengawalnya: Kambiang Utan, Harimau Campo, Kuciang Siam, dan Anjiang Mualim. Teknik-teknik yang mereka ciptakan merupakan perpaduan keluwesan dan ketegasan, dirancang untuk menghadapi ancaman baik dari darat maupun laut.Setiap gerakan dalam Silek Tuo tidak hanya memiliki fungsi praktis untuk perlindungan, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mencerminkan cara hidup masyarakat Minangkabau. Hal ini menunjukkan bahwa seni bela diri ini lebih dari sekadar teknik pertarungan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Filsafat dan Teknik

Silek Tuo mengajarkan lebih dari sekadar keterampilan fisik. Filosofi yang mendasarinya melibatkan pembentukan karakter, penghormatan kepada guru, serta nilai-nilai disiplin dan solidaritas. Pelatihan Silek Tuo mengedepankan etika dan moral yang selaras dengan budaya Minangkabau, seperti musyawarah dan kekeluargaan.

Teknik Silek Tuo meliputi gerakan pukulan, tendangan, kuncian, dan penggunaan senjata tradisional seperti keris atau golok. Banyak gerakan ini terinspirasi oleh hewan, seperti harimau yang kuat dan ular yang gesit, sehingga teknik ini mengutamakan strategi, kecepatan, dan presisi dalam pertarungan.

Perkembangan dan Variasi

Selama bertahun-tahun, Silek Tuo telah berkembang menjadi berbagai aliran, seperti Silek Lintau yang terkenal agresif dan Silek Kumango yang lebih menonjolkan keindahan gerakan. Meski setiap aliran memiliki keunikannya, semua tetap mempertahankan prinsip dasar Silek Tuo.Silek Tuo juga menjadi bagian dari seni pertunjukan tradisional seperti Randai, yang menggabungkan unsur tari, drama, dan musik. Dalam Randai, silek berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada penonton melalui cerita yang dibawakan.

Pelestarian Budaya

Upaya pelestarian Silek Tuo menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat Minangkabau, bersama komunitas seni dan lembaga pendidikan, berusaha mengajarkan seni ini kepada generasi muda melalui pelatihan, festival budaya, dan kompetisi antar daerah. Kegiatan ini bertujuan memastikan bahwa Silek Tuo tetap dikenal dan relevan dalam kehidupan modern.Pemerintah daerah juga mendukung pelestarian ini melalui program budaya dan promosi wisata.

Festival tahunan yang menampilkan pertunjukan Silek Tuo berhasil menarik perhatian masyarakat luas, termasuk wisatawan asing, untuk lebih mengenal seni bela diri tradisional ini. Dan budaya minangkabu kususnya budaya yang hapir puna ini dan megenalkan kepada orang luar kita mepunyai silek tuo yang berasal di minangkabau, memperkelakan silek sejak usia dini, mengadakan even,seperti galanggang silek.

Silek Tuo bukan hanya seni bela diri, tetapi juga simbol budaya Minangkabau yang sarat akan nilai-nilai luhur. Dengan pelestarian yang berkelanjutan, Silek Tuo diharapkan tetap hidup sebagai bagian penting dari warisan budaya Indonesia.

Semakin banyak yang mengenal dan menghargai seni ini, semakin besar pula peluang untuk mempertahankan dan mengembangkan Silek Tuo agar tetap relevan dan memberi inspirasi bagi generasi mendatang.Mari bersama menjaga dan melestarikan warisan budaya ini agar terus menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau dan Indonesia.

D. SEJARAH SEBAGAI ILMU SENI PADA SASTRA DAERAH

SEJARAH BAHASA SUNDA

Karena fakta yang tak dapat disangkal bahwa Tanah Sunda pun bagian dari Tanah Jawa. Maka kiranya tak ada salahnya saya ikut memaparkan tentang sejarah perkembangan Bahasa Sunda.
Bahasa Sunda adalah anggota rumpun bahasa Melayu-Polinesia, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Dengan demikian, bahasa Sunda merupakan salah satu turunan dari bahasa rekonstruksi Proto-Melayu Polinesia yang leluhur reka ulangnya adalah bahasa Proto-Austronesia.
Bukti terawal penggunaan bahasa Sunda dalam bentuk tulisan dapat dilacak dari sekumpulan prasasti yang ditemukan di wilayah Kawali, Ciamis yang diperkirakan dibuat pada abad ke-14. Sementara itu, bahasa Sunda dalam bentuk lisan telah dipakai jauh sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat.
Dalam sejarahnya, bahasa Sunda mengalami beberapa periodisasi atau perkembangan. Perkembangan linguistik tersebut sejalan dengan perkembangan kebudayaan Sunda yang mengalami kontak budaya dengan kebudayaan lain. Para ahli biasanya membagi periodisasi bahasa Sunda secara garis besar menjadi dua tahap utama, yakni bahasa Sunda Kuno dan bahasa Sunda Modern yang ciri kebahasaannya dapat dibedakan dengan cukup jelas. Sementara itu, menurut Hendayana (2020), perkembangan bahasa Sunda dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu:
1.Bahasa Sunda Kuno (Buhun)
2.Bahasa Sunda Klasik (Peralihan)
3.Bahasa Sunda Modern (Kiwari)

1. Bahasa Sunda Kuno
Bahasa Sunda Kuno adalah nama yang diberikan bagi bentuk dialek temporal bahasa Sunda yang ditemukan dalam prasasti-prasasti serta naskah-naskah yang dibuat sebelum abad ke-17. Bahasa ini umumnya diyakini sebagai pendahulu bahasa Sunda yang digunakan di zaman sekarang. Berdasarkan tataran sintaksis, morfologi, serta leksikonnya, bahasa Sunda Kuno sedikit banyak menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan bahasa Sunda Modern. Bahasa ini lazimnya digunakan di Kerajaan Sunda pada masa pra-Islam yang dituliskan pada naskah dari berbagai media, seperti daun lontar, gebang, dan daluang. Bahasa ini digunakan dalam berbagai bidang, seperti bidang keagamaan, kesenian, kenegaraan, dan sebagai alat komunikasi sehari-hari.
Bahasa Sunda Kuno kebanyakan ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno dan aksara Buda, selain itu, beberapa naskah berbahasa Sunda Kuno juga ada yang ditulis menggunakan aksara Kawi.
Contoh naskah-naskah yang menggunakan bahasa Sunda Kuno di antaranya adalah:

*Carita Parahyangan
*Kawih Panyaraman
*Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Dibawah ini adalah kutipan dari naskah Bujangga Manik, yang ditulis pada sekitar abad ke-14 sampai abad ke-15.

(Catatan: Teks transliterasi dan terjemahan yang disajikan di bawah diambil dengan beberapa perubahan seperlunya dari buku Tiga Pesona Sunda Kuna (2006) yang merupakan terjemahan dari buku Three Old Sundanese Poems karya J. Noorduyn & A. Teeuw.)

_Saur Sang Mahapandita: 'Kumaha girita ini? Mana sinarieun teuing teka ceudeum ceukreum teuing? Mo ha(n)teu nu kabé(ng)kéngan.' Saur sang mahapandita: 'Di mana éta geusanna? Eu(n)deur nu ceurik sadalem, séok nu ceurik sajero, midangdam sakadatuan.' Mo lain di Pakanycilan, tohaan eukeur nu ma(ng)kat, P(e)rebu Jaya Pakuan. Saurna karah sakini: 'A(m)buing tatanghi ti(ng)gal, tarik-tarik dibuhaya, pawekas pajeueung beungeut, kita a(m)bu deung awaking, héngan sapoé ayeuna. Aing dék leu(m)pang ka wétan.' Saa(ng)geus nyaur sakitu, i(n)dit birit su(n)dah diri, lugay sila su(n)dah leu(m)pang. Sadiri ti salu panti, saturun ti tungtung surung, Ulang panapak ka lemah, kalangkang ngabiantara, reujeung deung dayeuhanana, Mukakeun panto kowari._

Terjemahan:
Sang Pendeta Agung berkata: 'Mengapa ini menggemparkan? Tidak seperti biasanya hingga mendung suram sekali? Barangkali mereka yang kebingungan.' Seorang pendeta agung bertanya: Di mana tempat kejadiannya itu? Gemuruh yang menangis memenuhi istana, ramai yang menangis di dalam, semua isi kedatuan meratapi. Jangan-jangan di Pakancilan, atas kepergian Pangeran, Perebu Jaya Pakuan.' Dia berkata demikian: Ibunda, tataplah dengan jelas, dengan sedalam-dalamnya, untuk yang terakhir bertatap muka, engkau, ibunda, bersamaku, hanya tinggal sehari ini, ananda 'kan pergi ke arah Timur.' Setelah berkata begitu, berjongkok lalu berdiri, berjalan lalu pergi. Seperginya dari balai pertemuan, seturunnya dari ujung mimbar, lalu melangkahkan kakinya ke tanah, bayang-bayangnya memancar ke angkasa, bersama dengan dirinya, lalu membuka pintu gerbang.

2. Bahasa Sunda Klasik
Bahasa Sunda Klasik atau bahasa Sunda Peralihan adalah bahasa transisi yang menjembatani bahasa Sunda Kuno dengan bahasa Sunda Modern. Bahasa ini merupakan perkembangan selanjutnya dari bahasa Sunda Kuno setelah runtuhnya Kerajaan Sunda pada tahun 1579. Runtuhnya Kerajaan Sunda bersamaan dengan menguatnya pengaruh Islam yang merasuk ke dalam wilayah orang Sunda. Kosakata bahasa Sunda Klasik dipengaruhi kuat oleh bahasa Arab, kemudian bahasa Melayu, serta mulai munculnya tingkatan bahasa yang diadopsi dari kebudayaan monarki bercorak Islam. Bahasa ini digunakan pada abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19 terutama dalam bidang agama dan pemerintahan.
Sistem penulisan bahasa Sunda Klasik pada awalnya memakai aksara Sunda Kuno dengan model bentuk yang lazim ditemukan dalam naskah-naskah. Tetapi seiring berjalannya waktu, sistem penulisan bahasa Sunda Klasik mulai mengadopsi aksara-aksara asing seperti abjad Pegon dari abjad Arab, Cacarakan dari Hanacaraka, serta alfabet Latin yang disesuaikan dengan fonologi bahasa Sunda. Naskah yang ditulis dalam Cacarakan berbentuk puisi yang berjenis guguritan dan wawacan, yakni puisi yang digubah dalam bentuk dangding atau lagu yang memiliki aturan gurulagu, guruwilangan, dan gurugatra dalam setiap pada 'bait' dan padalisan 'baris'. Sementara itu, naskah-naskah dalam abjad Pegon sangat dipengaruhi oleh bahasa Arab dan bahasa Melayu, serta ditulis dalam bentuk syair atau puisi pupujian.

Salah satu contoh naskah berbahasa Sunda Klasik adalah naskah Carita Waruga Guru yang ditulis pada abad ke-18, menggunakan aksara Sunda Kuno. Selain naskah tersebut, beberapa contoh naskah yang menggunakan bahasa Sunda Klasik di antaranya adalah:

*Sajarah Cikundul
*Sajarah Galuh Bareng Galunggung
*Carios Samaun

Di bawah ini adalah kutipan dari naskah Carita Waruga Guru yang diperkirakan ditulis antara tahun 1705-1709.

Ini carita Waruga Guru, éta nu nyakrawati. Nu poék angen tulus, da kujaba di nu bodo, nu tarrabuka priyayi sakarep kasorang tineung meunang guru. Ratu Pusaka di jagat paramodita, éta, kanyahokeun ratu galuh, keurna bijil ti alam gaib; nya Nabi Adam ti heula. Ratu Galuh dienggonkeun sasaka alam dunya. Basana turun ti langit masuhur, turun ka langit jambalulah, turun ka langit mutiyara, turun ka langit purasani, turun ka langit inten, turun ka langit kancana, turun ka langit putih, turun ka langit ireng, turun ka langit dunya. Ja kalangan, tata lawas turun ka Gunung Jabalkap. Upami: ratu Galuh dienggonkeun sasaka alam dunya, nabi Adam ti heula, pinareking gunung Mesir. Adam diseuweu opat puluh, dwa nu sakembaran, munijah luluhur haji dewi; cikal, da hiji dingarankeun nabi Isis, luluhur manusa.

Terjemahan:
Ini adalah kisah Waruga Guru, ialah yang menguasai dunia. Dia yang pikirannya gelap akan tetap demikian, karena ketidaktahuan sama sekali tanpa terkecuali, para pemuda yang tercerahkan, melihat apa yang mereka inginkan terpenuhi, mendapatkannya dari guru. Pangeran dalam citra ketakutan, biarlah diketahui, Ratu Galuh, sejak dia muncul dari alam ghaib, memang Nabi Adam mendahului (dia). Ratu Galuh dijadikan pusaka duniawi. Kemudian dia turun dari langit yang mahsyur, turun ke langit Jambalullah (kemuliaan Allah), turun ke langit mutiara, turun ke langit baja, turun ke langit intan, turun ke langit kencana, turun ke langit putih, turun ke langit hitam, turun ke langit dunia (dunia manusia). Karena ada yang menghalangi, ia kemudian turun pada waktunya ke Gunung Jabalkap. Perumpamaannya: Ratu Galuh dijadikan pusaka dunia, Nabi Adam mendahului (dia) di dekat Gunung Mesir. Adam mempunyai empat puluh anak, kembar dari kedua jenis kelamin, (yang diizinkannya) untuk menjadi nenek moyang para pangeran dan ratu: yang tertua, raja, disebut nabi Isis: dia adalah nenek moyang manusia.

3. Bahasa Sunda Modern
Bahasa Sunda Modern adalah bentuk bahasa Sunda yang mulai berkembang setelah adanya kolonialisme Belanda di Indonesia. Bahasa ini dikembangkan dan dikodifikasi dengan ditandai oleh terbitnya kamus-kamus yang membahas bahasa Sunda. Perjalanan panjang berkembangnya bahasa Sunda Modern dapat diuraikan melalui peristiwa-peristiwa di bawah ini.

-Tahun 1841: 
Terbitnya Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda yang didasarkan kepada senarai kosakata yang telah dikumpulkan oleh De Wilde, yang ditulis oleh Roorda di Amsterdam. Peristiwa ini menandai diakuinya bahasa Sunda sebagai bahasa yang mandiri secara resmi.

-Tahun 1842: 
Walter Robert van Hoëvell, seorang pendeta yang bertugas di Batavia menulis sebuah jurnal mengenai istilah-istilah etnografi Djalma Soenda.

-Tahun 1843:
 Diadakan sayembara penyusunan kamus bahasa Sunda dengan lema terbanyak yang digagas oleh Pieter Mijer, seorang sekretaris Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan yang berhadiah 1000 Gulden dan medali emas. Hal ini menjadi pemicu orang-orang Eropa untuk mempelajari bahasa Sunda.

-Tahun 1862: 
Untuk pertama kalinya, kamus bahasa Sunda-Inggris diterbitkan oleh Jonathan Rigg, seorang pengusaha asal Inggris yang memiliki perkebunan di Bogor Selatan. Terbitnya kamus bahasa Sunda-Inggris ini membuat beberapa pihak orang Belanda kecewa, salah satunya adalah Koorders, seorang doktor teologia dan hukum yang ditugaskan ke Hindia-Belanda tahun 1862 untuk mendirikan sekolah guru (Kweekschool). “Ini membuat saya sedih karena penyusunnya bukan orang Belanda”, kata Koorders (1863).

-Tahun 1872: 
Dipilihnya bentuk bahasa Sunda yang dituturkan di Bandung sebagai bahasa Sunda yang paling murni menurut pemerintah kolonial Belanda, bentuk bahasa ini kemudian dibakukan untuk dijadikan bahasa Sunda baku dengan diterbitkannya kamus-kamus serta buku-buku tata bahasa Sunda oleh para sarjana dan penginjil. Tahun 1912, ditegaskan kembali bahwa dialek Bandung sebagai bahasa Sunda baku. Penetapan tersebut masih berpengaruh hingga kini.

Semenjak itu bahasa Sunda terus mengalami perkembangan. Sastra-sastra Sunda mulai dikembangkan dan bahasa Sunda menjadi bahasa pengantar di sekolah tingkat dasar maupun tingkat lanjut. Hal ini didukung dengan diterbitkannya buku-buku atau bahan bacaan lain berbahasa Sunda yang dipelopori oleh Raden Muhammad Musa, seorang penghulu besar Limbangan, Garut yang juga didorong oleh Karel Frederik Holle, seorang berkebangsaan Belanda yang menaruh perhatian besar terhadap bahasa dan kebudayaan Sunda. 

Selanjutnya Land’s Drukkerij dan Volk-slectuur (1908) yang kemudian berganti nama menjadi Balai Poestaka pada 1917 memainkan peranan penting dalam penerbitan berbagai buku berbahasa Sunda. Lalu bermunculanlah pengarang-pengarang yang menulis karya mereka dalam bahasa Sunda, seperti, Adiwijaya, Kartawinata, Burhan Kartadireja, M. Kartadimaja, R. Rangga Danukusumah, R. Suriadiraja, R. Ayu Lasminingrat, D.K. Ardiwinata, dan sampai saat ini masih banyak bermunculan generasi penerusnya.

Sistem penulisan bahasa Sunda Modern menggunakan alfabet Latin dengan beberapa ejaan yang berbeda. Selain itu dalam penggunaan terbatas, bahasa Sunda Modern juga dapat ditulis menggunakan abjad Pegon dan Cacarakan. Keadaan ini terus berlanjut hingga pada tahun 1997, diadakan lokakarya yang diselenggarakan di Universitas Padjajaran untuk menetapkan aksara Sunda baku yang model bentuknya didasarkan pada aksara Sunda kuno dengan beberapa penyederhanaan. Aksara ini kemudian ditetapkan sebagai salah satu sistem penulisan bahasa Sunda Modern (kontemporer) yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Karya sastra dalam bahasa Sunda Modern banyak sekali judulnya, contoh di bawah ini adalah kutipan dari salah satu karya sastra berupa puisi bahasa Sunda yang dikumpulkan oleh Ajip Rosidi dalam bukunya yang berjudul Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa (2001).

Berikut ini adalah puisi karya Surachman R.M. (lahir tahun 1936) yang berjudul "Basa Ngurebkeun" yang kemudian diterjemahkan oleh Ajip Rosidi menjadi "Di Kuburan."

Basa milu ngurebkeun, harita
patepung reujeung manéhna
Teu sangka
Paromanna geus lalayu sekar
lir potrét panineungan
boléas kawas warna kabayana

"Ceuceu mah geus incuan. Kuma
Ayi sabaraha batina?"

Dijawab ku imut, semu katahan
Sab mangsa 20 taunan téh kapan
keur usum urang mah lain lumayan

Basa ngurebkeun geus lekasan
pok deui manéhna lalaunan

"Kulan?" cék kuring panasaran
"Muhun moal kasorang deui
Mangsa rumaja mah, Yi
moal kasorang deui..."

Terjemahan:
Waktu menghadiri kuburan
bertemu dengan dia
Tidak kukira
Airmukanya bunga layu
laksana potret kenangan
sepudar warna kebayanya

Terjemahan:
"Aku sudah punya cucu. Dan kau
berapa anakmu?"

Kujawab dengan senyuman, seperti tertahan
Sebab masa 20 tahunan
buat kita bukan lumayan

Waktu penguburan selesai
perlahan ia berkata lagi
"Apa?" tanyaku penasaran
"Ya, takkan teralami lagi
masa remaja yang indah
takkan teralami lagi..."

E. SEJARAH DALAM ILMU SENI PANGGUNG TEATER

Dramaturgi, dalam berbagai bentuknya, merupakan elemen dasar yang diperlukan bagi teater kontemporer. Pada awalnya, kata tersebut berarti teori "membuat permainan” secara komprehensif. Meskipun awalnya tumbuh dari teater, dramaturgi kontemporer melakukan banyak kemajuan besar dan sekarang menembus semua jenis bentuk dan struktur narasi: dari opera hingga seni pertunjukan; dari tari dan multimedia hingga pembuatan film dan robotika.

 Dalam konteks global, kolaborasi kelompok multinasional dimediasi untuk mengelola larutnya peran tradisional, waktu, tempat, dan ruang yang sebelumnya tidak tergoyahkan. 

Dramaturg merupakan globalis utama: mediator antarbudaya dan informasi, manajer penelitian, analis konten media, negosiator interdisipliner, ahli strategi media sosial. Koleksi artikel ini berfokus pada praktik dramaturgis kontemporer, menyatukan kontribusi tidak hanya dari akademisi, tetapi juga dari dramaturg praktisi terkemuka.

Keterlibatan dramaturg akademisi dan dramaturg praktisi menunjukkan kuatnya tingkat keterlibatan dramaturgi dengan isu-isu mutakhir, dengan dampak media sosial, hingga pusat perhatian interdisiplin, dan proses intermediasi.

Dengan 85 artikel kontribusi dari para ahli teori, praktisi, dan cendekiawan terkemuka, The Routledge Companion to Dramaturgy akan menjadi buku pegangan dasar, dan sumber inspirasi penting bagi pelatihan para seniman, serta para peneliti seni pertunjukan.

Buku Pendampingan ini juga berfungsi sebagai peta dasar untuk berbagai proyek yang sedang berlangsung di masa depan, dengan
 (1) menyajikan gambaran yang kompleks dan gambar multiwajah tentang strategi dramaturgi yang telah dan kemungkinan besar akan terus diterapkan pada bentuk drama dan teater yang lebih tradisional; dengan 
(2) mengajukan pertanyaan mendasar yang akan terus membuka cakrawala baru untuk praktik dan eksperimen kinerja postdramatic dan avant-garde; dengan 
(3) mengeksplorasi peran dramaturgi dalam bentuk pertunjukan populer dan berorientasi komersial; dan dengan
 (4) menghadapi tantangan dan potensi ekspresi artistik yang baru dan luas berdasarkan teknologi media baru”yang inovatif .

Kumpulan artikel yang dikuratori dengan mempesona ini, Magda Romanska mengumpulkan perspektif berbagai varian kelompok cendekiawan serta praktisi internasional, veteran dan singa muda, penjaga api dan visioner. Hasilnya tidak mencari jawaban pasti tentang "Apa itu dramaturgi?;" hanya membuat pertanyaan di samping intinya.

 Routledge Companion to Dramaturgy membuka seluruh disiplin ilmu untuk diuji dan terlebih lagi, untuk menjalankan eksplorasi baru. Buku ini dapat dan harus menginspirasi para profesional dan yang baru muncul untuk melihat dramaturgi sebagai platform agen seniman secara generatif dan pemikir yang sebenarnya. 

Dalam The Poetics, Aristoteles menganggap plot (μῦθος = mitos) sebagai elemen drama terpenting, dan mendefinisasinya sebagai "pengaturan peristiwa." Plot harus memiliki semua elemen yang diperlukan: menyatu dari awal, tengah, dan akhir dengan logis. Pengaturan peristiwa harus sedemikian rupa, sehingga reaksi berantai penyebab-dan-effectnya (desis) mengarah ke klimaks dan akhirnya dapat terurai dengan meyakinkan serta secara internal terurai dengan tepat (lusis ). Plot yang berhasil memiliki semua elemen dalam urutan yang tepat; termasuk pembalikan (peripeteia), pengenalan (anagnorisis), dan penderitaan (pathos), serta mengarah pada katarsis pembersihan emosi. Plot bukanlah cerita atau narasi melainkan lebih sebagai penyangga dramaturgis yang mengatur urutan peristiwa sampai puncak cerita hingga mencapai pelepasan katarsis. Dalam model Aristoteles paling awal ini, seorang dramaturg mengaitkan kerjanya terutama dengan plot, pengaturan peristiwa – dengan kata lain, bersama struktur dramatik. 

Konsep dramaturgi yang fungsi teatrikal aslinya terpisah, Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781), yang koleksi esainya, Hamburgische Dramaturgie (1769), memperkenalkan baik istilah aktual maupun gambaran “in-house critic," yang perannya membantu teater dalam proses pengembangan pertunjukan. Lessing memahami dramaturgi sebagai "teknik (atau puitika) seni dramatik, yang berusaha untuk memantapkan prinsip-prinsip bangunan pertunjukan. Dia melihat fungsinya di dalam teater lebih sebagai "pendidik publik" yang perannya adalah "mencerahkan massa dan tidak mengkonfirmasi prasangka mereka dengan cara berpikir yang buruk. Menantang selera publik dan mempromosikan standar estetika tertinggi adalah bagian dari misi dramaturgi Lessing.  

Setelah Perang Dunia II, Bertolt Brecht (1898-1956) memperkenalkan gagasan baru tentang dramaturgi produksi. Dalam teater Brecht, Dramaturg menjadi kolaborator teoritis paling penting bagi sutradara. Dramaturgi dalam artian Brecht terdiri dari seluruh persiapan konseptual dari awal hingga realisasinya. Brecht memperluas tugas dramaturg termasuk meneliti dan mengklarifikasi aspek politik dan sejarah seperti juga aspek estetika dan formal sebuah pertunjukan. Dramaturg berpartisipasi dalam latihan dan menyampaikan hasil penelitian dan pengetahuannya kepada anggota tim produksi, terutama sutradara, sebelum dan selama proses produksi. Dia juga berfungsi sebagai penghubung antara tim dan penonton, mencatat program dan artikel produksi secara teoretis. 

Tiga puluh tahun kemudian, dramaturgi Amerika berkembang berdampingan bersama model Eropa, dipandu terutama oleh contoh produksi dramaturgi Jerman dan manajemen lembaga sastra, dengan setiap teater regional mengembangkan modelnya sendiri yang sesuai dengan kondisi sosial budaya dan ekonomi mereka. Seperti yang dicatat Mark Bly, saat itu selain pertumbuhan wilayah tersebut, beberapa dramaturg memilih menjadi sutradara artistik dalam organisasi penting, karena luas dan dalamnya pengetahuan para dramaturg, juga pemahaman sastra dramatik dan proses teatrikal. Beberapa di antara dramaturg memberanikan diri memasuki , tari, opera, film dan televisi, memperluas profesi mereka ke dalam disipin lainnya. Didanai terutama melalui sumbangan pribadi, teater regional Amerika melayani fungsi yang secara tradisional berbeda dari teater-teater di Eropa yang didanai negara.

Pembaruran jargon teatrikal dan sosiologis semakin memperluas konsep dramaturgi. Baru-baru ini, dramaturgi telah memasuki wilayah interdisipliner terbaru, yaitu kajian technoself, yang berfokus pada kajian konstruksi identitas manusia vis-a-vis teknologi, terutama lingkungan virtual, seperti video game dan identitas online. Dalam konteks teater dan sosiologis, dramaturgi virtual adalah batas terbaru dari perburuan dramaturgis. Di dekade terakhir, revolusi digital, media baru, dan perubahan dalam proses pembuatan teater sebagai acuan, menginspirasi tidak hanya lanskap teatrikal global tetapi juga fungsi dan peran dramaturgi di dalam dan di luar teater. Beberapa perubahan berlangsung dan tumbuh menjadi trend budaya dan estetika terbaru. Mulai tahun 1960-an pertunjukan postdramatic secara berulang-ulang memutus perlengkapan teatrikal individual dari konteks teater yang lebih besar. Ide teater postdramatic pertama kali diperkenalkan oleh Andrzej Wirth (1927-), seorang ahli teori teater Polandia dan pendiri Institute for Applied Theatre Studies di Gießen yang terkenal di Gießen, Jerman, untuk menggambarkan jenis postmodern, bentuk teatrikal abstrak. yang tidak lagi dialogis, linier, atau realistik.

Buku Routledge Companion to Dramaturgy berfungsi sebagai survei wilayah yang semakin berkembang, menawarkan aplikasi teoretis dan praktik seluas mungkin dari praktik dramaturgis: yang mencakup karya kolaboratif, musik. teater, tari, opera, multimedia, film, dan desain video game – bentuk seni yang sebelumnya diabaikan dalam diskusi praktik dramaturgis. Sejak metode penelitian dan analisis dramaturgis memiliki aplikasi luas melalui berbagai bentuk dan disiplin ilmu seni, potensi pilihan karir bagi dramaturg meluas hingga merambah dunia di luar teater. 

Tadeusz Kantor (1915 – 1990) adalah seorang pelukis dan sutradara teater asal Polandia. Ia pernah disebut sebagai “seniman terbaik dunia di antara seniman Polandia dan yang paling Polandia di antara seniman dunia”. Selama hidupnya, beberapa orang menganggapnya seorang jenius, dan yang lain menganggapnya sebagai ahli mistifikasi atau peniru yang ulung. Ia adalah seniman serba bisa, sehingga sangat berisiko untuk membagi karyanya ke dalam “disiplin” tersendiri. Sebagai seorang pelukis, desainer panggung, penyair, aktor, dan orang yang suka membuat kejadian, ia membuat namanya dikenal sebagai seorang seniman teater, tetapi bahkan dalam bidang itu ia tetap menjadi pelukis yang berpikir dengan gambar dan menggunakan aktor dan alat peraga sebagai pengganti cat.

Pencapaian terbesar Kantor adalah Teater Cricot 2. Pertunjukannya, dimulai dengan The Dead Class (1975), sebuah teater kematian yang menciptakan ilusi artistik untuk mekanisme ingatan. Rangkaian gambar yang tidak nyata, potongan-potongan kenangan, adegan yang muncul kembali secara mencolok, dan situasi yang tidak masuk akal: serangkaian kebencian yang menyakitkan, kerinduan yang berani, fragmen kalimat yang menghantui, potongan-potongan masa lalu yang lucu. Ia menciptakan ruang yang luar biasa sugestif di mana kehidupan dan kematian bercampur aduk, di mana keinginan yang paling malu-malu dan pengalaman yang paling kejam, yaitu perang, cinta dan kejahatan, ketakutan, gairah dan kebencian terungkapkan. Pada foto-foto memudar di album keluarganya, biografi pribadinya terjalin dengan sejarah, di mana mitos-mitos nasional dan obsesi pribadi kembali dengan gema yang melelahkan, seperti di cermin yang terdistorsi.

Sepanjang hidupnya, ia mengarahkan semua energinya untuk melanggar konvensi: maka dari itu banyak tindakan, kejadian, dan ide konseptualnya terasa revolusioner. Semangat dan keyakinan tanpa syarat pada seni merupakan ciri terpenting dari sikapnya. Kantor memiliki karisma seorang pemimpin, seorang nabi; ia dapat mengumpulkan kreator lain di sekitarnya dan menyemangati mereka dengan antusias. Ia memainkan peran besar dalam seni Polandia.

Karya-karya Kantor menyingkapkan hakikat pelajaran etika avant-garde yang sesungguhnya: keyakinan pada penciptaan yang tiada henti, kecemasan terus-menerus akan risiko, dan upaya untuk melampaui diri sendiri.

F. SEJARAH DALAM ILMU SENI PUSAKA

Kajian Historis dan Filosofis Kujang dalam Kosmologi Sunda.

Kujang, pusaka khas masyarakat Sunda, memiliki akar sejarah dan nilai filosofis yang mendalam. Bentuknya yang khas sering diasosiasikan dengan burung, atau “manuk” dalam bahasa Sunda, merepresentasikan simbol kosmologi Sunda yang kaya. Lebih dari sekadar alat atau senjata, kujang adalah manifestasi budaya yang sarat akan makna spiritual, filosofis, dan simbolis.

Sejarah dan Evolusi Kujang

Kujang dipercaya telah ada sejak zaman Tarumanegara, meski belum tercatat dalam prasasti resmi. Sejumlah bukti arkeologis, seperti situs Batu Kujang di Sukabumi dan relief di Candi Sukuh, memperkuat eksistensinya pada masa lalu. Dalam periode Pajajaran (739 M), kujang telah menjadi simbol pemersatu dua kerajaan besar, Sundapura dan Galuh, melalui Perjanjian Galuh. Kujang tidak hanya menjadi senjata tetapi juga pusaka yang melambangkan persatuan dan kedaulatan.

Pada masa Pajajaran Makukuhan sekitar abad ke-12, kujang berkembang menjadi simbol status sosial dan spiritual. Para bangsawan dan pemimpin menggunakannya sebagai lambang kepangkatan dan penghormatan. Evolusi bentuk kujang pada periode ini mencerminkan perkembangan nilai-nilai budaya Sunda yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan sistem kenegaraan.

Kosmologi Sunda dan Makna Kujang

Sebagai manifestasi kosmologi Sunda, kujang memiliki hubungan erat dengan konsep spiritual dan ajaran ketuhanan. Dalam tradisi Sunda, kujang diinterpretasikan sebagai simbol manusia yang menyatu dengan alam semesta, melambangkan hubungan harmoni antara manusia dan Sang Pencipta.

Filosofi kujang dapat dipahami melalui metode tradisional Sunda, seperti:

1. Panca Curiga: Pendekatan ini mencakup sindir (kiasan), silib (perumpamaan), siloka (gambaran simbolis), sasmita (intuisi mendalam), dan sandi (kode simbolik).
 
2. Jampe Pamake: Lima tahapan pemahaman, yakni mengerti (niti harti), menghayati (niti surti), membaktikan (niti bakti), membuktikan secara ilmiah (niti bukti), dan mencapai kebenaran sejati (niti sajati).

Melalui pendekatan tersebut, kujang dipandang sebagai manifestasi ajaran tentang asal-usul semesta dan keseimbangan kosmis yang diwakili dalam bentuk visual.

Variasi Bentuk dan Fungsi Kujang

Keragaman bentuk kujang ditemukan di berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Bandung, Sumedang, Cirebon, Garut, dan Banten. Setiap variasi bentuk mencerminkan filosofi dan fungsi tertentu, dari perkakas agraris hingga senjata spiritual. Masyarakat Kanekes (Badui), misalnya, menggunakan kujang sebagai perkakas multifungsi, sedangkan masyarakat Sunda lainnya menjadikannya pusaka yang memiliki nilai mistis dan simbolis.

Kujang juga mengalami perbedaan penamaan di berbagai daerah. Di Jawa Barat, istilah “kujang” lebih dominan, sedangkan di Jawa Tengah dan Timur dikenal dengan istilah “kudi” atau “cangak.” Meski demikian, struktur fisik dan material kujang tetap menunjukkan kesamaan di berbagai wilayah, mengindikasikan asal-usulnya yang sama.

Kujang sebagai Simbol Kebudayaan dan Kedaulatan

Kujang bukan hanya simbol individu, tetapi juga representasi kedaulatan dan identitas budaya Sunda. Bentuknya yang menyerupai burung menjadi metafora untuk negara dan kekuasaan, seperti yang tercermin dalam simbol “manuk” (burung) sebagai lambang negara. Kujang juga dikaitkan dengan konsep “Galuh Hyang Agung,” yang menghubungkan ajaran spiritual dengan sistem kenegaraan.

Sebagai karya seni tradisional, kujang mengandung nilai estetika yang tinggi. Keunikan bentuk dan kelangkaannya membuatnya diminati sebagai pusaka, baik untuk penghormatan leluhur maupun untuk tujuan spiritual. Namun, koleksi kujang di Indonesia saat ini sangat terbatas dibandingkan dengan koleksi senjata tradisional lainnya, seperti keris dan tombak. Ironisnya, banyak kujang yang telah menjadi koleksi museum di luar negeri, seperti Museum Delft di Belanda.

Kujang adalah saksi bisu perjalanan sejarah dan budaya Sunda yang kaya. Sebagai simbol spiritual dan kosmologis, kujang merefleksikan nilai-nilai luhur masyarakat Sunda yang menghormati hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Penelitian dan pelestarian kujang bukan hanya tentang mengungkap masa lalu, tetapi juga tentang merawat warisan budaya yang menjadi identitas bangsa.

G. SEJARAH DALAM ILMU SENI BUDAYA TRADISI

“Tarawangsa: Kesenian Rakyat yang Memikat dari Sunda”

Tarawangsa merupakan salah satu warisan budaya yang kaya dari masyarakat Sunda, yang memiliki dua makna penting: sebagai alat musik gesek yang terdiri dari dua dawai, dan sebagai bentuk musik tradisional yang unik. Keberadaannya yang lebih tua dibandingkan rebab, alat musik gesek lain yang populer, menunjukkan nilai historisnya. Dalam naskah kuno Sewaka Darma dari abad ke-18, nama tarawangsa sudah dicatat sebagai alat musik. Sementara rebab muncul di Jawa sekitar abad ke-15 hingga 16, dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Dengan ukuran yang lebih tinggi, tarawangsa kemudian dikenal pula sebagai rebab jangkung, dan bentuknya yang mirip dengan Morin Khuur dari Mongolia menambah daya tariknya.

Pertunjukan yang Memukau

Dalam pertunjukannya, tarawangsa dimainkan dengan cara yang khas: hanya satu dawai yang digesek, sementara dawai lainnya dipetik menggunakan jari telunjuk tangan kiri. Musik tarawangsa dimainkan dalam sebuah ansambel kecil yang terdiri dari tarawangsa dan alat petik bernama jentreng, yang menyerupai kecapi. Kesenian ini dapat ditemukan di beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Rancakalong (Sumedang), Cibalong, Cipatujah (Tasikmalaya Selatan), Cikondang Pangalengan (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan). Di daerah Cibalong dan Cipatujah, kesenian ini dikenal sebagai Calung Tarawangsa, yang menggabungkan dua alat musik tersebut dengan perangkat lain seperti calung rantay, suling, dan nyanyian.

Musik yang dimainkan dalam laras pelog ini memiliki variasi repertoar yang kaya. Di Rancakalong, misalnya, terdapat lagu pokok seperti Pangemat, Pangapungan, Pamapag, dan Panganginan, yang biasa digunakan dalam upacara sakral untuk mengundang Dewi Sri. Lagu-lagu tambahan dan pilihan yang tidak kalah menarik juga mengisi daftar repertoar, menjadikan pertunjukan ini kaya akan nuansa dan emosi.

Klasifikasi dan Alat Musik

Alat musik yang menjadi inti dari kesenian tarawangsa ini terbuat dari bahan alami seperti kayu kenanga, jengkol, dadap, dan kemiri. Dalam sistem klasifikasi musik, tarawangsa termasuk dalam kategori Chordophone, sub klasifikasi neck-lute, sedangkan jentreng dikategorikan sebagai zither. Dalam ensambel, tarawangsa berfungsi sebagai pembawa melodi, sementara jentreng menjadi pengiring yang setia.

Pemain tarawangsa biasanya terdiri dari dua orang: satu untuk tarawangsa dan satu untuk jentreng. Umumnya, mereka adalah petani berusia antara 50 hingga 60 tahun. Pertunjukan tarawangsa sering diadakan sebagai bagian dari upacara padi, seperti ngalaksa, yang merupakan ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Dalam acara ini, penari laki-laki dan perempuan turut berpartisipasi, melakukan gerakan yang penuh simbolisme untuk menghormati Dewi Sri dan leluhur mereka.

Keselarasan antara Gerakan dan Spiritualitas

Tarian dalam kesenian Tarawangsa bukan sekadar gerakan fisik, melainkan juga merupakan bentuk penghormatan dan hubungan metafisik dengan kepercayaan yang dipegang oleh para penari. Para penari sering mengalami trance, menambah keajaiban dan kedalaman makna dalam setiap pertunjukan. Gerakan mereka, yang dipimpin oleh Saehu (pemandu tari), menciptakan suasana yang magis, di mana penonton pun bisa merasakan kehadiran dan berkah dari Dewi padi.



Dengan segala keunikan dan keindahan yang ditawarkannya, tarawangsa tidak hanya menjadi sekadar pertunjukan seni, tetapi juga merupakan ungkapan budaya yang memperkuat identitas dan kepercayaan masyarakat Sunda. Kesenian ini layak untuk terus dilestarikan dan diapresiasi, agar generasi mendatang dapat merasakan kekayaan budaya yang telah ada selama berabad-abad ini. 


“Seren Taun: Upacara Panen yang Kaya Akan Tradisi dan Makna”

Seren Taun, sebuah upacara adat Sunda yang penuh dengan simbol dan makna, adalah acara tahunan yang merayakan panen padi. Tradisi ini diadakan dengan khidmat di desa-desa adat Sunda sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah. Tidak hanya dihadiri oleh penduduk setempat, tetapi masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan dari luar negeri, turut berpartisipasi dalam perayaan ini. Beberapa desa adat yang rutin menggelar Seren Taun adalah Desa Cigugur di Kuningan, Kasepuhan Banten Kidul di Ciptagelar, Desa Sindang Barang di Bogor, Desa Kanekes di Lebak, dan Kampung Naga di Tasikmalaya.

Asal-Usul dan Etimologi Seren Taun

Kata “Seren Taun” berasal dari bahasa Sunda, di mana seren berarti menyerahkan atau seserahan, dan taun berarti tahun. Secara harfiah, Seren Taun berarti penyerahan hasil dari tahun yang lalu ke tahun yang baru. Dalam kehidupan agraris masyarakat Sunda, upacara ini menjadi momentum untuk bersyukur atas hasil pertanian yang diperoleh dan memohon keberkahan untuk musim panen mendatang. Tradisi ini mencakup serah terima hasil bumi berupa padi yang disimpan dalam lumbung atau leuit, tempat penyimpanan padi yang sakral. Terdapat dua jenis leuit, yaitu leuit indung (lumbung utama) yang menyimpan bibit padi dan leuit pangiring (lumbung kecil) untuk kelebihan hasil panen.

Sejarah Panjang dari Masa Kerajaan Sunda

Menurut catatan sejarah, Seren Taun sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sunda, seperti masa Kerajaan Pajajaran. Upacara ini ditujukan untuk menghormati Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Masyarakat agraris pada masa itu memuliakan alam yang mereka anggap memberikan kehidupan dan kesuburan melalui hasil tani dan peternakan. Dewi Nyi Pohaci dipasangkan dengan Kuwera, dewa kemakmuran, yang secara simbolis diwujudkan dalam Pare Abah (padi ayah) dan Pare Ambu (padi ibu).

Di era Kerajaan Pajajaran, terdapat dua jenis upacara Seren Taun: upacara tahunan Seren Taun Guru Bumi yang diadakan di Pakuan Pajajaran dan di wilayah-wilayah kerajaan lainnya, serta upacara besar setiap delapan tahun sekali atau yang disebut Seren Taun Tutug Galur. Meski upacara ini sempat terhenti setelah keruntuhan Pajajaran, tradisi ini kemudian dihidupkan kembali pada tahun 2006 di Desa Sindang Barang, Bogor.

Ragam Ritual dan Simbolisme dalam Seren Taun

Upacara Seren Taun memiliki berbagai tahapan yang berbeda di setiap desa adat, namun esensinya tetap sama: prosesi serah terima padi hasil panen kepada ketua adat. Ketua adat kemudian memberikan indung pare (bibit padi) kepada warga desa untuk ditanam pada musim tanam berikutnya. Di beberapa tempat, upacara dimulai dengan pengambilan air suci dari sumber-sumber air keramat, yang kemudian dipercikkan kepada semua orang yang hadir untuk memberi berkah.

Beberapa ritual yang khas adalah pembagian kue tradisional kepada warga, yang dianggap membawa keberkahan, serta penyembelihan kerbau yang dagingnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Pada malam hari, acara dimeriahkan dengan pertunjukan wayang golek.

Puncak acara Seren Taun biasanya dimulai dengan prosesi ngajayak, yaitu menyambut padi hasil panen dengan tarian, angklung, dan berbagai kesenian lainnya. Ritual ini tidak hanya menjadi perayaan tetapi juga sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, yang dilengkapi dengan doa dari tokoh-tokoh agama. Padi yang diserahkan oleh para pemimpin desa kemudian ditumbuk bersama oleh masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan harapan untuk panen yang melimpah di masa mendatang.

Warisan Budaya yang Terus Dihidupkan

Seren Taun bukan sekadar upacara adat, melainkan juga bentuk komitmen untuk melestarikan identitas budaya Sunda. Meski kini kebanyakan masyarakat Sunda telah memeluk agama Islam, mereka tetap menghormati tradisi ini dengan mengintegrasikan doa-doa dalam upacara. Seren Taun pun menjadi ajang bagi masyarakat untuk bersyukur atas karunia Tuhan, sekaligus memohon perlindungan dan kesejahteraan untuk masa depan. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUMPULAN NASKAH MENDONGENG FLS3N 2026 UNTUK JENJANG SD

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 21 PAYAKUMBUH

NASKAH PANTOMIM FLS3N 2026 UNTUK SDN 16 PAYAKUMBUH